Nura pernah mencintai sampai kehilangan hak untuk menjadi dirinya sendiri. Keluar dari hubungan yang penuh kontrol dan kekerasan, ia membangun hidup yang mandiri, tenang, dan nyaman. Dalam perjalanan itu, Nura sebenarnya tidak pernah menutup diri dari siapapun yang datang. Hanya saja, ternyata ia berhenti berharap.
Ketika seorang lelaki hadir dengan perhatian yang nyaris mengekang kembali hidupnya, Nura memilih pergi sebelum kebebasannya kembali dipertaruhkan. Setelah itu, Nura menjalin hubungan dengan lelaki yang memberinya ruang gerak namun tanpa kepastian. Berkali-kali ia gagal menemukan sosok yang membuatnya percaya jika cinta yang memberi ruang aman dan pasti itu ada.
Di titik hidup yang sudah mapan, Nura dihadapkan pada pertanyaan sederhana sekaligus menakutkan. Apakah di titik hidup nyaman sendirian adalah jawaban yang tepat untuknya pulih, atau justru sebenarnya ada cinta yang bisa hadir tanpa melukai?
All Rights Reserved