Celestia tidak pernah menginginkan hidup yang istimewa. Ia hanya menyukai hal-hal yang tenang, rak buku yang tersusun rapi, halaman yang dibaca perlahan, dan cerita yang tidak memaksa dirinya untuk kagum.
Perpustakaan adalah tempat ia kembali, bukan untuk melarikan diri, melainkan untuk kedamaian.
Hingga suatu hari, ia menemukan sebuah novel yang terasa berbeda.
Bukan karena kisahnya megah, melainkan karena kesunyian yang mengalir di setiap halamannya.
Sebuah cerita tentang Rimvian Aganta Raksa pangeran yang tidak diperkenalkan kepada rakyatnya sendiri, disembunyikan dari sorotan istana, dan dibentuk dalam diam melalui latihan keras serta ajaran tanpa belas kasihan. Tanpa sorakan. Tanpa pengakuan.
Semakin Celestia membaca, semakin batas antara cerita dan kenyataan terasa menipis. Potongan kisah itu tidak berhenti saat buku ditutup. Ia ikut berjalan dalam keseharian, menetap di pikirannya, dan perlahan mengubah ritme hidupnya.
Tidur menjadi tidak utuh. Waktu terasa melenceng. Dan kehadiran sesuatu yang tidak terlihat mulai terasa nyata. Ketika sebuah peristiwa memutuskan Celestia dari dunianya sendiri, ia terbangun di tempat yang seharusnya hanya ada dalam cerita. Di dunia kerajaan yang belum sepenuhnya ditentukan oleh takdir, Sang pangeran sedang berjalan menuju masa depan yang tidak pernah ia pilih, namun tidak pernah ia tolak.
Seorang pewaris yang tumbuh tanpa pengakuan, namun membawa beban sebuah tahta yang tidak diinginkan oleh siapa pun selain dirinya sendiri.
Pertemuan mereka bukan tentang cinta yang lahir seketika.
Bukan pula tentang pahlawan dan putri dalam dongeng lama.
Ini adalah kisah tentang proses.
Tentang bertahan dalam diam.
Tentang pilihan yang dibuat tanpa penonton. Dan tentang sebuah cerita yang menolak berakhir sebagai cerita.
All Rights Reserved