
Pagi-paginya diisi dengan roti hangat, bangku sekolah, dan kebiasaan mengamati orang-orang yang sibuk menjalani hidup mereka. Ia tersenyum, berjalan, dan memperkenalkan dirinya dengan nama yang sama, tanpa pernah menyadari bahwa nama itu menyimpan luka yang tak pernah benar-benar sembuh. Ia belajar bertahan dengan cara yang paling menyakitkan: diam. Saat kehilangan, penyesalan, dan hubungan yang salah arah saling bertabrakan. Ia harus menghadapi kenyataan bahwa tidak semua luka ingin disembuhkan, beberapa hanya ingin diakhiri.All Rights Reserved
1 part