We've updated our Content Guidelines.
Review the latest guidelines to keep sharing stories safely.
KAMPUNG BOY

KAMPUNG BOY

  • WpView
    Reads 25
  • WpVote
    Votes 3
  • WpPart
    Parts 3
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Tue, Feb 3, 2026
WpInfo
Fiction
Romance
Cerita tentang chelyn yang harus mendapatkan hukuman dari mami dan papi nya yang harus tinggal di desa Seruni yang katanya desa bau ketek kambing. ‎ ‎Namun apakah julukan 'desa bau ketek kambing' itu bertahan lama saat ia bertemu cowok gagah dan kerjaannya cuman giring kambing? ‎ ‎Semua berubah saat chelyn kenal dengan Rio, dia kini mulai menerima hidupnya tinggal di desa dan julukan itu pun sudah tidak ada lagi di benaknya. ‎ ‎Namun apa yang akan terjadi selanjutnya? ‎ gak pernah mau gue kalo bukan suruhan bokap nyokap gue buat datengin desa yang banyak tai kambing, bau ketek kambing, lumpur dimana-mana. tapi apalah daya gue, gue cuman bisa pasrah Nerima hukuman. "omaygattt cecel gak kuat papi! mami! cecel mau pulang!!" - Rachelyn fanesha gisson "terima hukuman kamu sayang hanya setahun kok" ______ "are you seriously? Lo suruh gue buat nyebur ke air yang banyak bakteri ini? gak bisa! bisa-bisa kaki gue pada gatel-gatel!" "ayolah, ini keburu gelap. nanti saya bantu kamu bilas kaki biar gak gatel-gatel" - Dario ikky Azad ‎ KAMPUNG BOY start 3 Januari 2026 finish -
All Rights Reserved
#6
bau
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Berandalan di Mata Sang Tuan Muda.
  • EVANESCENT (HIATUS)
  • I'm Not Just a Figuran
  • Tsundere Maniak Susu
  • Blueprint Pelarian Villain [END]
  • Transmigrasi Ziora
  • GHAIKA (REVISI)
  • ATLANTIS 2: PANGLIMA
  • GRAVARENZO
  • The Time

​Suara decit sepatu basket yang bergesekan dengan lantai semen SMA Nusantara Bakti seolah menjadi satu-satunya melodi yang akrab di telinga Arga. Matahari Jakarta yang menyengat di jam 12 siang sama sekali tidak ia gubris. Peluh membasahi jersey birunya, mengalir melewati leher dan hilang di balik kain yang sudah basah kuyup. ​Bagi Arga, hanya di lapangan ini dunia terasa jujur. Di sini, musuhnya jelas: ring basket dan lawan main. Tidak ada teriakan ibunya yang melengking menyalahkan takdir, tidak ada bau alkohol dari ayahnya yang pulang pagi membawa tumpukan utang baru, dan tidak ada beban rasa bersalah setiap kali melihat kakaknya pulang kerja dengan wajah pucat demi membiayai sekolahnya. ​"Arga! Berhenti main atau gue laporin ke BK karena bolos jam sejarah lagi!" ​Arga menghentikan dribel bolanya. Ia menoleh, menyeka keringat dengan punggung tangan, lalu menyeringai tipis melihat pengurus OSIS yang berdiri di pinggir lapangan dengan buku catatan. ​"Laporin aja," sahut Arga santai. "Ruang BK udah kayak rumah kedua buat gue, sekalian titip salam buat Pak Hendra." ​Di sisi lain koridor sekolah yang lebih dingin karena hembusan AC, melangkah sosok yang menjadi pusat gravitasi SMA Nusantara Bakti. Adrian. ​Setiap langkahnya terukur, seragamnya rapi tanpa cela, dan wajah blasterannya yang seolah dipahat langsung oleh malaikat, selalu memasang ekspresi datar yang sulit ditembus. Sebagai Ketua OSIS sekaligus putra tunggal dari pemilik Arsenio Group, Adrian adalah definisi kesempurnaan yang nyata. Hidupnya adalah garis lurus yang tenang, penuh fasilitas, dan kasih sayang yang melimpah. ​⊹ ࣪ ﹏𓊝﹏𓂁﹏⊹ ࣪ ˖⊹ ࣪ ﹏𓊝﹏𓂁﹏⊹ ࣪ ˖ WARNING ⚠ - b×b - BL lokal - Mpreg - ini cerita bl, awas jangan salah lapak. - banyak typo bertebaran.

More details
WpActionLinkContent Guidelines