"Pacaran harus banget gituan ya?" tanya Nawa dengan penuh keheranan. Dia tahu, banyak kasus pacaran yang sampai "Melampaui Batas".
Bahkan dia juga adalah orang yang terkena dampak dari fitnahan itu.
Tapi, semua berubah ketika teman lamanya kembali menyapanya sejak sidang.
"Kak, jual akun genshinnya gak?" tanya Nawa.
"Tidak. Aku udah install, tapi entah kapan balik. Intinya aku ga akan jual"
****
"Kamu kalo ngesilent treatment orang, ngeri juga ya Naw" Gidik Rahman di telepon ketika Nawa menceritakan sedikit kegelisahannya pada temannya.
"Acara keluarga, tapi ditanya kapan nikah, kurang ajar ga sih?" tanya Nawa tanpa menjawab pertanyaan kadiv nya.
"Engga sih, kalau cowoknya sanggup mah gas aja sih Nawa. Kalau belum, jangan dulu" ujar Rahman di ujung telepon.
Biasanya, orang itulah yang Nawa cari ketika benar - benar membutuhkan saran yang masuk akal. Setidaknya, untuk takaran pemikiran anak kuliah seperti dirinya.
Umurnya masih belia, Dia masih bisa mengejar cita - citanya.
"Nikah itu baik, tapi kalau niatnya salah ya berkurang nilai makna sebuah pernikahan itu sendiri, Naw." ucapan lelaki itu masih terngiang di telinganya hingga saat ini dia baru selesai sidang setelah dihajar habis - habisan oleh Rama.
Bukan dihajar secara fisik, tapi secara mental. Bipolarnya dan asam lambungnya naik bersamaan.
Tapi siapa sangka, semesta memberikannya hadiah indah setelahnya?
"Kamu kalo mau sama dia, sama dia aja. Daripada aku begah liat kamu disakitin orang lain."
Seluruh Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang