William selalu yakin dirinya rasional. Fokus skripsi. Fokus masa depan. Nggak ada waktu buat drama. Sampai Est datang. Anak SMA kelas tiga yang terlalu berani, terlalu cerewet, dan terlalu yakin kalau dia adalah "masa depan" William. Setiap penolakan dianggap tantangan. Setiap dingin dibalas senyum. Setiap jarak dipersempit dengan nekat. Awalnya William cuma capek. Capek nolak. Capek pura-pura nggak peduli. Tapi ternyata... yang paling capek adalah menyangkal kalau Est sudah jadi bagian dari harinya. Hubungan mereka resmi. Tapi dunia nggak semudah itu menerima. Perbedaan umur jadi bahan omongan. Status jadi pertanyaan. Dan saat semuanya mulai terasa stabil- Satu pengakuan datang. Beasiswa luar negeri. Keberangkatan tiga bulan lagi. Rahasia yang nggak sempat diucapkan dari awal. Dan pertanyaan yang nggak bisa dihindari: Apakah cinta cukup kuat untuk bertahan ketika jarak ikut campur? Atau justru jarak yang membuktikan mana yang benar-benar ingin tinggal? Karena kadang... yang bikin lelah bukan ditolak. Tapi takut ditinggal setelah akhirnya diterima.
More details