The Professor's Observation

The Professor's Observation

  • WpView
    LECTURAS 42,117
  • WpVote
    Votos 887
  • WpPart
    Partes 27
WpMetadataReadContenido adultoConcluida sáb, feb 28, 2026
(Observasi Sang Profesor) 21+ "Jangan plagiat" Ayumi Reina (Rei) adalah definisi mahasiswi teladan di Fakultas Psikologi: cerdas, berprestasi, namun sangat polos dalam memahami bahasa hasrat. Baginya, cinta hanyalah susunan reaksi kimia dan hormon yang bisa dijelaskan melalui buku teks. Hingga sebuah proyek penelitian mempertemukannya secara intim dengan Daviandra, dosen muda jenius dengan aura dingin yang mendominasi. Rei terpilih sebagai asisten tunggal untuk riset tentang "Respon Fisiologis Manusia terhadap Stimulus Ekstrem". Namun, Rei tidak menyadari bahwa di balik kacamata dan sikap formalnya, Davian memiliki metode "observasi" yang tidak pernah diajarkan di universitas mana pun. Di dalam ruangan kerja yang kedap suara, Davian mulai membedah pertahanan diri Rei, satu demi satu. Setiap sentuhan, bisikan, dan tatapan tajam pria itu adalah jebakan yang dirancang untuk membuktikan satu teori: Bahwa kepolosan Rei adalah subjek paling menggoda untuk dikuasai. Ketika batas antara edukasi dan obsesi mulai hancur, Rei harus memilih: melarikan diri dari eksperimen berbahaya ini, atau membiarkan dirinya menjadi objek observasi paling intim dalam hidup Davian. "Teori hanyalah kata-kata, Rei. Mari kita lihat... seberapa cepat jantungmu berdetak saat aku benar-benar menyentuhmu."
Todos los derechos reservados
Únete a la comunidad narrativa más grandeObtén recomendaciones personalizadas de historias, guarda tus favoritas en tu biblioteca, y comenta y vota para hacer crecer tu comunidad.
Illustration

Quizás también te guste

  • THE IDOL'S HIDDEN LUST (TAMAT)
  • AFTER US
  • JERAT (END)
  • OBEY ME, PRINCESS (END)
  • Owner's Obsession
  • JOKER & GITA: A Jakarta Love Story (21+)
  • Night Calls
  • GALASMIRA
  • RED FLAG (END)
  • Love Scandal: GALIH

"Lepas, Mas! Aku bisa aduin ini ke Juna!" teriak Avaya, suaranya gemetar ketakutan, tapi terdengar teredam, seperti terperangkap dalam kotak. Arya hanya terkekeh dingin. Dengan gerakan kasar, dia meraih ujung kaos hitamnya dan menariknya lewat atas kepala. "Terus Juna bisa apa?" ejeknya sinis, sambil melangkah mendekat. Avaya berusaha lari ke pintu, mencoba memutar kenopnya dengan liar. Tapi terkunci. Dia memukul-mukul pintu yang berat itu. "Tolong! Tolong!" teriaknya, panik, tapi suaranya hanya bergema lemah di dalam ruangan kedap suara itu. Arya sudah berdiri di belakangnya. Dengan mudahnya, dia memutar tubuh Avaya yang ringkih dan mendorongnya hingga terjatuh ke atas kasur. "Mau apa kamu, Mas? Aku bakal teriak!" ancam Avaya, suaranya parau ketakutan. "Teriak aja," bisik Arya, napasnya sudah dekat di telinga Avaya. "Nggak akan ada yang denger. Apa lagi perduli." Sebelum Avaya bisa berteriak atau melawan lebih jauh, Arya sudah mencium Avaya dengan paksa, sebuah ciuman yang keras, penuh kuasa dan amarah, bukan penuh kasih. Sebuah pelampiasan dari segala kekecewaan dan rasa sakit yang selama ini ia pendam. Dengan gerakan kasar dan penuh kuasa, tangan Arya yang besar mencengkeram kerah blus Avaya. Kain itu meregang sebelum akhirnya terkoyak. Suara kancing-kancing kecil yang berhamburan ke lantai ⊱ ʚĭɞ ⊰ ◦ ◦ ◦ ❁ Nona Lebah ❁ ◦ ◦ ◦ ⊱ ʚĭɞ ⊰ Peringatan: STOP! Cerita ini mengandung perilaku toxic, kekerasan emosional, dan dinamika yang sangat tidak sehat. Jika kamu mencari hubungan yang setara dan sehat, kamu berada di tempat yang salah. BERHENTILAH DI SINI. Cukup sampai di sini dan pergilah. Karena di dalam sini, hanya ada obsesi yang merusak.

Más detalles
WpActionLinkPautas de Contenido