9 partes Continúa Maya Anindya, 25 tahun, lari dari rumah karena ayahnya memaksanya menikah lagi. Trauma masa lalu membuatnya menolak segala bentuk perhatian dari laki-laki. Ia hanya ingin tenang, hidup tanpa tuntutan, dan menenangkan hatinya yang rapuh.
Di rumah eyang Aira dan Uka, dua anak kecil yang kehilangan orang tua, Maya menemukan rutinitas baru: baking, bermain dengan daun, dan menciptakan dunia sederhana yang menenangkan bagi anak-anak itu. Kehadiran mereka perlahan menembus tembok hatinya yang lama terkunci.
Namun kedamaian itu mulai goyah saat Ardan Fakhri, insinyur sipil berusia 28 tahun, datang. Tenang, sabar, dan penuh perhatian lewat hal-hal kecil, Ardan menebar rasa aman tanpa menekan. Maya merasakan sesuatu yang asing: kehangatan yang tidak menuntut, rasa nyaman yang tidak harus ia hindari, tapi ia tetap waspada karena trauma lama.
Pertanyaan polos Aira tentang "mau jadi mama Aira?" menjadi ujian bagi Maya. Bukan sekadar jawaban, tapi tentang seberapa siap ia membuka hati, belajar mempercayai, dan menerima cinta yang tulus. Sementara Ardan, perlahan tapi pasti, menunjukkan bahwa perhatian dan ketulusan bisa hadir tanpa memaksa.