Bagaimana rasanya hidup sebagai orang yang terlalu merasa,
di dunia yang tidak selalu tahu cara berbicara pelan?
Tokoh utama tidak tumbuh dari peristiwa besar, melainkan dari keheningan yang panjang.
Ia dibesarkan di lingkungan yang berjalan seperti biasa-tidak kejam, tidak juga hangat berlebihan. Sejak kecil, ia belajar mengamati lebih dulu sebelum berbicara. Ia cepat memahami suasana, cepat menangkap perubahan nada, dan sering merasa apa yang tidak diucapkan lebih berat daripada kata-kata itu sendiri.
Ia terbiasa menyesuaikan diri. Menjadi cukup, tidak merepotkan, tidak terlalu terlihat. Di balik itu, ia menyimpan kebiasaan menyendiri di dalam keramaian-hadir secara tubuh, tetapi menjaga jarak di dalam kesadaran.
Tidak ada satu kejadian yang membuatnya menjadi seperti ini. Kepekaannya tumbuh perlahan, dari hal-hal kecil yang berulang: kata yang dianggap sepele, diam yang terlalu lama, perasaan yang tidak menemukan tempat untuk diceritakan.
Kini, di usia dewasa, kebiasaan itu berubah menjadi ruang batin yang sering ia masuki tanpa sengaja. Ruang di mana dunia terasa jauh, waktu melambat, dan dirinya menjadi lebih nyata sekaligus lebih kecil.
Ia tidak tahu apakah ini kelebihan atau beban. Yang ia tahu, kesadaran itu selalu datang-bahkan ketika ia tidak mencarinya.
---
## Nada & Arah
Tous Droits Réservés