APOCALYPSE

APOCALYPSE

  • WpView
    Reads 113,427
  • WpVote
    Votes 19,641
  • WpPart
    Parts 6
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Wed, Apr 1, 2026
Demi mendapatkan obat untuk adiknya, Elia Morrigan menyamar sebagai seorang laki-laki dan bekerja di laboratorium ilegal. Laboratorium tempat di mana manusia kelas bawah dikurung dan dijadikan sebagai bahan penelitian bagaikan hewan. Elia bertugas mengantarkan makanan pada para manusia uji coba yang telah kehilangan sisi kemanusiaan mereka, yang perlahan-lahan menjadi monster mengerikan. Semuanya sangat mengerikan, namun ada satu tahanan di sana yang membuat bulu kuduk Elia me remang setiap kali mengantarkan makanan padanya. Tahanan dengan nama Lucas deTadeusz itu selalu menarik tangan Elia saat Elia mengantarkan makanan padanya, menarik tangan Elia melalui celah sel yang sempit dan mengendus tangan Elia seraya menatap Elia dengan pupil matanya yang melebar hampir menutupi seluruh sclera-nya. "Kau perempuan. Kau begitu harum, membuatku rasanya ingin sekali memakanmu."
All Rights Reserved
#124
adult
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Nala dan Mas Juragan
  • NANGGALA
  • Kembang Desa
  • Stand by Me
  • A dan Z
  • I'm the male lead's wife?
  • Hello Mr. Komrad
  • Prahara Lamaran [END]
  • Terpaksa Dinikahi Duda Anak Dua
  • Rencana Pensiun Dini Nona Villain

Cerita ini ada di paijo juga. --- Setelah menyelesaikan kuliahnya, Kanala Ayudia Kirana (22) diminta oleh keluarganya untuk pulang ke kampung halaman dan tidak perlu bersusah payah mencari pekerjaan di ibu kota. Namun, Nala menolak dengan alasan tidak ingin menyia-nyiakan gelar di belakang namanya. Ia bersikeras ingin mencari pengalaman kerja selama satu tahun terlebih dahulu sebelum benar-benar menetap di kampung. Keluarganya akhirnya menyetujui, dengan satu syarat: Nala hanya boleh bekerja selama satu tahun, tidak lebih. Sayangnya, baru tiga bulan bekerja di salah satu perusahaan ternama, Nala menyerah. Tekanan pekerjaan yang tinggi dan lingkungan kantor yang tidak sesuai dengan ekspektasinya membuatnya kehilangan semangat. Ia pun memutuskan untuk mengundurkan diri dan berdiam diri di kosan, tanpa keberanian untuk memberi tahu keluarganya. Raras-ibu Nala-yang kemudian mengetahui anak bungsunya sudah tidak bekerja lagi, segera mendesaknya untuk pulang. Sebelum Nala sempat menolak, Raras lebih dulu mengancam tidak akan lagi mengirimkan uang bulanan. Terpojok dan kehabisan pilihan, Nala akhirnya menyerah. Ia berkemas dan pulang ke kampung halamannya. Namun siapa sangka? Di antara hamparan sawah dan hari-hari yang membosankan di warung milik ayahnya, hadir Hanggara Wiratama (31), juragan tanah sekaligus pemilik peternakan ayam terbesar di desa tetangga, selain itu ia juga menjalankan usaha jual-beli beras yang ia bangun dari nol, tak lupa dengan usahanya di kota yang tidak banyak diketahui orang. Sosoknya yang tenang dan apa adanya membuat Nala belajar bahwa pulang bukan berarti kalah, melainkan menemukan tempat untuk tumbuh. Bersamanya, Nala menyadari bahwa tidak semua mimpi harus dikejar jauh ke kota, sebagian justru menunggu untuk ditemukan di rumah.

More details
WpActionLinkContent Guidelines