Euphoria - The Moment When I Realis

Euphoria - The Moment When I Realis

  • WpView
    Reads 233
  • WpVote
    Votes 25
  • WpPart
    Parts 4
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Mon, May 18, 2026
Baca yuk!, di jamin seru!! Shenara menyukai Biru, tapi Biru sudah memiliki pacar. dengan segala usaha dia mendekati nya itu karena pada dasarnya dia yang lebih dulu mengenal nya sejak masa SMA. Akhirnya dia sadar jika usahanya selama ini mengejar Biru hanya sia-sia. bagaimana pun juga Liliane adalah pemenangnya walaupun mereka baru bertemu di masa perkuliahan ini. Dan saat ingin menenangkan hati dan pikirannya di taman, bukannya mendapatkan kedamaian dia malah bertemu dengan seorang anak kecil perempuan yang mengaku jika dia adalah anak dari Biru dan Shenara. Bagaimana kelanjutan kisah nya?, yang awalnya ingin berhenti malah berlanjut karena kehadiran anak itu. Start : 01 - 02 - 2026 End :
All Rights Reserved
#600
ahyeon
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • The Villain Mother
  • DOMINEX | The Crime Lock
  • More Than Friends: when it rains
  • Kumpulan Cerpen Spritual
  • Tangled Thread (On Going) HIATUS
  • I MEET YOU IN THE OVER MOON (DEALOVA)
  • Galdira [SEASON 2]
  • Almost Married (END)
  • Diary Receh 2
  • SASMITA CANDALA (21+)

HAPPY READING ❤️‍🔥 "Eungghh..." Zeva mengerang. Hal pertama yang ia rasakan adalah kepalanya yang serasa berat dan berdenyut. Saat ia mencoba menggerakkan badan, tulang-tulangnya terasa kaku dan pegal luar biasa. "Nyonya? Nyonya Thania sudah sadar?!" sebuah suara parau penuh haru terdengar di dekat telinganya. Zeva mengerjap-erjapkan matanya yang masih buram. Begitu pandangannya fokus, ia tidak melihat langit-langit putih rumah sakit atau wajah panik orang tuanya. Alih-alih, ia menatap langit-langit kamar mewah dengan desain interior klasik yang sangat asing. "Aduh, kepala gue..." Zeva memegang keningnya, lalu menoleh ke samping. Ia terlonjak kaget melihat seorang wanita paruh baya berpakaian pelayan sedang menangis sesenggukan sambil memegang tangannya. "Akhirnya Nyonya bangun. Bibi takut sekali Nyonya kenapa-kenapa." Zeva mengernyitkan dahi. "Nyonya? Bibi?" Ia bangkit duduk dengan perlahan meski kepalanya masih berputar. Ia memandangi tangannya yang tampak lebih dewasa, lalu mengedarkan pandangan ke seluruh penjuru kamar yang luasnya tidak masuk akal itu. "S-siapa ya? Terus... ini di mana? Kok gue bisa di sini?" tanya Zeva dengan nada bingung sekaligus waspada. Wanita yang menyebut dirinya Bi Minah itu langsung terdiam, matanya membelalak kaget. "Nyonya... Nyonya tidak ingat saya? Ini rumah Nyonya sendiri, rumah Tuan Devan." Zeva tertegun. Nama-nama itu terasa tidak asing. Otaknya mencoba memproses informasi tersebut sampai akhirnya ia teringat buku novel yang ia lempar ke sofa tadi malam. "Bentar... jangan bilang gue masuk ke novel sampah itu?" gumam Zeva dengan wajah pucat pasi.

More details
WpActionLinkContent Guidelines