
Kadang, musuh terbesar kita bukan orang yang membenci kita. Tapi orang yang paling mengerti kita tanpa kita sadari. Darren berdiri di depan cermin kamar mandi gedung studio. Tangannya basah, wajahnya dingin, dan matanya merah. Ia baru saja memukul seseorang. Seseorang yang akhir akhir ini sering terlihat oleh pandanganya. Itu Theo. Mahasiswa yang selalu terlihat tenang bahkan sok tenang. Darren menarik napas panjang. "Sialan..." gumamnya pelan. Bukan ke Theo. Tapi ke dirinya sendiri. Karena untuk pertama kalinya dalam hidupnya, dia memukul bukan karena marah... Tapi karena takut. Takut dengan caranya sendiri melihat Theo. Takut juga dengan cara Theo membaca makna gambar di sketsanya tanpa salah. Cara Theo berdiri terlalu dekat tapi nggak pernah benar-benar menyentuh. Cara suaranya selalu terdengar tenang-bahkan saat dibenci. Di luar, suara langkah kaki mendekat. "Puas?" suara Theo terdengar serak dari balik pintu. Darren menegang. "Kalau belum, pukul lagi aja," lanjutnya, "biar sekalian lo lega" Darren menggenggam tangan erat. Kuku-kukunya menekan telapak tanganya sendiri. "Gue nggak mau lo," katanya lirih. "Tapi kenapa lo selalu ada di kepala gue?" Hening. Lalu terdengar tawa kecil. "Masalahnya, Ren..." suara Theo bergetar, tapi tetap santai, "gue juga nggak pernah minta masuk ke hidup lo." Darren menutup mata. Di antara mereka ada pintu. Tapi yang memisahkan bukan cuma itu. Ada Felix. Ada masa lalu yang belum selesai. Ada luka yang belum jelas milik siapa. Tapi jaraknya terasa lebih jauh dari itu. Karena mereka belum tau perasaan yang paling menyakitkan bukan benci, tapi cinta yang datang di orang yang salah.All Rights Reserved