Demi mengobati sang nenek yang sakit sakitan, Amara kaluna, merelakan masa mudanya. Di usia ketika orang lain menikmati mimpi dan kebebasan, ia justru pontang-panting mencari sepeser uang. berpindah dari satu pekerjaan ke pekerjaan lain. menukar waktu, tenaga, dan harapan demi memperpanjang napas satu-satunya keluarga yang ia miliki.
Di tengah susahnya Amara mencari sepeser uang, ia dipertemukan dengan jalan yang menjanjikan keselamatan sang nenek, namun mengancam masa depan dan prinsip hidupnya sendiri.
pendiam, dan penuh luka batin:
azziel zavian jarang bicara. Ia lebih sering berdiri bersandar di motornya, menyalakan rokok tanpa benar-benar menghisapnya, membiarkan asap naik perlahan seolah ikut membawa pikirannya pergi. Helmnya penuh goresan, jaket kulitnya, dan sepatu botnya selalu kotor oleh debu jalanan. Wajahnya datar, tapi sorot matanya menyimpan kemarahan yang sudah terlalu lama dipendam.
Ia tidak suka ditanya tentang masa lalu. Jalanan mengajarkannya bertahan, bukan bercerita. Ia tumbuh di lingkungan yang keras, tempat kelembutan dianggap kelemahan. Namun di sela hidupnya yang kasar, masih ada sisi sunyi-ia berhenti untuk menolong anak kecil menyeberang, atau menundukkan kepala ketika mendengar kabar orang sakit.
Ia hidup cepat, seolah tak pernah merencanakan hari esok. Bukan karena tak punya mimpi, tapi karena tak berani berharap
Pertemuan pertamanya dengan amara, Azziel merasa tertarik pada Amara, seolah perempuan itu membawa sesuatu yang lama hilang dari hidupnya.
Ketertarikan Azziel terhadap Amara itu tumbuh begitu dalam hingga menjelma menjadi obsesi untuk menjadikannya milik sendiri.
Demi memuaskan obsesinya pada Amara, Azziel menawarkan satu-satunya jalan keluar: kesembuhan sang nenek, dengan harga yang harus dibayar-Amara sendiri.
Publik senin, 1 Januari 2026
All Rights Reserved