Tolong lihat aku sebentar

Tolong lihat aku sebentar

  • WpView
    Reads 2,062
  • WpVote
    Votes 1,292
  • WpPart
    Parts 26
WpMetadataReadMatureOngoing
WpMetadataNoticeLast published Tue, Jun 16, 2026
Bahkan seuntai perhatian bisa menjadi cahaya kebahagiaan dalam hidup seseorang." Yang kucari hanyalah sejumput perhatian dan hembusan kasih sayang. Dari kebahagiaan yang melimpah, bukankah mungkin untuk membagi setidaknya satu persen kasih sayang yang kalian limpahkan padanya? Aku merasa seperti debu yang kalian hanyutkan tanpa belas kasihan. Aku merasa terbuang, lebih tepatnya terabaikan. Apakah salah jika aku merasa iri? "Seperti lintang yang berkelip di langit utara, begitu pula kebahagiaan yang muncul dari setiap interaksi subtil yang dipenuhi dengan kasih.
All Rights Reserved
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • S Di Antara Dua N
  • Side Character Syndrome
  • SALAH OBAT
  • AVISENA
  • 𝗗𝗲𝗸𝗮𝗽𝗮𝗻 𝗦𝗮𝗻𝗴 𝗗𝗲'𝗔𝘁𝗵𝗼𝘀
  • GHOST FACE: NEXT, ARE YOU READY? (21+) ✔️
  • Ervan Carolline
  • The Last Antagonis
  • [TAMAT] Help, I'm a Zombie!
  • NEALINE : Blood and Ice Cream

Dunia menyambut Navaro Azael Aryan dengan tangis haru dan sorak sorai. Lima menit kemudian, Nazino Azel Arian lahir, melengkapi kebahagiaan yang sudah meluap. Namun, takdir rupanya masih menyimpan kejutan di balik tirai. Lima belas menit berlalu, saat ruang persalinan hampir tenang, kontraksi hebat kembali datang. Lahir lah si bungsu, Savero Aziel Arthan. Alih-alih sorak sorai, keheningan yang canggung justru menyelimuti ruangan. Tatapan kedua orang tua mereka bukan lagi binar bahagia, melainkan keterkejutan yang sulit diartikan. Maklum saja, selama sembilan bulan pemeriksaan USG, dokter hanya menyatakan ada dua janin. Savero kecil rupanya sangat pandai bersembunyi di balik punggung kedua kakaknya, seolah ia memang sudah terbiasa mengalah sejak dalam kandungan. Perbedaan itu dimulai sejak detik pertama mereka menghirup udara dunia. Saat ketiganya menangis bersahutan, sang ibu langsung meminta suster membawakan Nazino ke pelukannya, sementara sang ayah sibuk menenangkan Navaro yang tampak gelisah. Lalu, bagaimana dengan Savero? Ia hanya menangis di dalam boks bayi, ditenangkan oleh usapan sarung tangan karet seorang suster yang merasa iba. Sejak saat itu, garis pembatas itu nyata adanya. Perbedaan itu bukan sekadar ketidaksengajaan, melainkan menjadi identitas yang melekat. Lihat saja namanya. Kedua kakaknya kompak menggunakan inisial N, sementara ia terlempar jauh ke abjad S. Kebiasaan dibedakan selama belasan tahun membentuk mental Savero menjadi baja. Ia bukan tipe remaja yang akan mengurung diri di kamar dan menangis hanya karena tidak dibelikan baju yang sama dengan kakak-kakaknya. Justru, Savero membangun dunianya sendiri dengan prinsip Anti Mainstream. Start : 8/3/2026 End : - Sampul by Ai

More details
WpActionLinkContent Guidelines