Bagaimana rasanya dijodohkan dengan seseorang yang diam-diam telah lama kita sukai? Atau lebih rumit lagi-bagaimana rasanya ketika takdir justru mempertemukan kita dengan sahabat sendiri, orang yang selama ini kita anggap sebagai rumah paling aman?
Sekilas, itu terdengar seperti potongan cerita romantis yang manis, seolah semesta akhirnya berpihak, menyatukan dua hati yang sejak awal sudah saling mengenal. Rasanya seperti doa yang terkabul tanpa perlu diminta, seperti bunga yang mekar tepat di musimnya.
Namun, bagaimana jika kenyataannya tak seindah bayangan?
Bagaimana jika perasaan itu justru menjadi beban, bukan kebahagiaan?
Karena menyukai seseorang sebelum dijodohkan berarti menyimpan harapan terlalu lama, dan harapan-seperti kaca tipis-mudah retak saat disentuh kenyataan. Sementara dijodohkan dengan sahabat sendiri ibarat menari di atas garis rapuh: satu langkah salah, dan bukan hanya cinta yang bisa hilang, tetapi juga persahabatan yang selama ini menjadi sandaran.
Ada kecanggungan yang tumbuh perlahan, seperti jarak tak kasatmata di antara dua orang yang dulu tertawa tanpa batas. Setiap percakapan terasa berhati-hati, setiap candaan kehilangan ringannya. Perasaan pun bercampur aduk-antara bahagia, takut, ragu, dan kehilangan. Bukan karena tak ada cinta, melainkan karena terlalu banyak yang dipertaruhkan.
Dan saat itulah kita sadar, tak semua kisah yang tampak indah dari luar benar-benar mudah dijalani. Kadang, takdir bukan datang untuk memberi kebahagiaan seketika, melainkan untuk menguji: apakah kita siap merawat perasaan yang sudah berubah arah, atau justru harus belajar melepaskan demi menjaga yang tersisa.
Karena cinta yang dipaksakan oleh keadaan, meski lahir dari rasa yang tulus, tetap membutuhkan keberanian-keberanian untuk memilih, bertahan, atau bahkan mengikhlaskan.
||FOLLOW SEBELUM BACA!!!||
"Ini kamar aku, nggak boleh nyelonong masuk tanpa izin" tegas Ala, kesal karena ruang pribadinya diakses tanpa seizinnya.
Kai menutup pintu, mendekat ke arah Ala yang sedang berbaring di ranjangnya.
"Ih, jangan naik" larangan Ala lagi-lagi diabaikan oleh pria itu.
Ala memberenggut kesal, pria kaku itu bahkan sudah bergabung di bawah selimut yang ia pakai.
"Sejak kapan suami istri punya kamar sendiri-sendiri?" bisik Kai tepat di belakang telinga Ala.
Ala merinding kegelian karena hangat hembusan nafas Kai.
"Sejak sekarang" pekik Ala begitu berhasil melarikan diri dari dekapan Kai. Dia berlari ke luar kamar, meninggalkan Kai yang tertawa puas setelah berhasil menggoda dirinya.
Masih terasa jejak usapan tangan Kai di perutnya tadi. Ala khawatir, apakah pria itu sudah tahu?
***
Cerita ini tentang dua sejoli yang hidup bertetangga namun tidak saling mengenal. Mereka bertemu karena sebuah insiden, hingga akhirnya semakin dekat dan mulai nakal tipis-tipis 🔞
⚠️⚠️⚠️
Terdapat beberapa konten dewasa eksplisit dan kata-kata vulgar, silahkan skip jika tidak berkenan. Bijaklah memilih bacaan.
JANGAN LUPA VOTE DAN KOMEN KARENA BACA CERITA INI GRATIS.
JANGAN JADI SILENT READER!