Bunga di sebelah Graha

Bunga di sebelah Graha

  • WpView
    Membaca 28
  • WpVote
    Vote 13
  • WpPart
    Bab 3
WpMetadataReadBersambung
WpMetadataNoticePublikasi terakhir Min, Jan 25, 2026
WpInfo
Fiksi
Romansa
Putri Sekara. Yang bertransmigrasi menjadi gadis remaja pada penghujung statusnya sebagai bangsawan. Sekara adalah putri tunggal pewaris takhta di kerajaan Divera. Namun sayangnya dia tak mengambil pelantikan takhta sebagai ratu di kerajaan itu dengan alasan tidak menginginkan pernikahan bahkan pewaris untuk kerajaan itu. Dan itu salah satu persyaratan menjadi ratu di masehi dan masa depan yang akan dibangun oleh Divera. Kerajaan mengganggap itu sebagai penghinaan karena menolak permintaan Raja, majelis bangsawan merapatkan keputusan pada putri Sekara terhadap statusnya sebagai putri. Majelis memutuskan untuk mencabut status nya dan mendapatkan persetujuan dari raja langsung. Sekara dicabut status bangsawan nya dengan cara memalukan di depan raja dan dibuang ke wilayah perbatasan timur. Sekara menemukan bunga di tengah-tengah perjalanan nya ke perbatasan - dia memberhentikan perjalanan nya untuk mengagumi bunga itu, dan beristirahat sebentar di pohon setempat dengan bunga itu di dekatnya. Saat ia bangun dia menemukan dirinya dengan versi lain dari Sekara.
Seluruh Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang
Bergabunglah dengan komunitas bercerita terbesarDapatkan rekomendasi cerita yang dipersonalisasi, simpan cerita favoritmu ke perpustakaan, dan berikan komentar serta vote untuk membangun komunitasmu.
Illustration

anda mungkin juga menyukai

  • Nala dan Mas Juragan
  • Prahara Lamaran [END]
  • EGLLAR MY PERFECT HUSBAND [END]
  • Salah Status [END]
  • Hello Mr. Komrad (Complete)
  • Rencana Pensiun Dini Nona Villain
  • Stand by Me (END+LENGKAP)
  • Kembang Desa
  • Nakula

Setelah menyelesaikan kuliahnya, Kanala Ayudia Kirana (22) diminta oleh keluarganya untuk pulang ke kampung halaman dan tidak perlu bersusah payah mencari pekerjaan di ibu kota. Namun, Nala menolak dengan alasan tidak ingin menyia-nyiakan gelar di belakang namanya. Ia bersikeras ingin mencari pengalaman kerja selama satu tahun terlebih dahulu sebelum benar-benar menetap di kampung. Keluarganya akhirnya menyetujui, dengan satu syarat: Nala hanya boleh bekerja selama satu tahun, tidak lebih. Sayangnya, baru tiga bulan bekerja di salah satu perusahaan ternama, Nala menyerah. Tekanan pekerjaan yang tinggi dan lingkungan kantor yang tidak sesuai dengan ekspektasinya membuatnya kehilangan semangat. Ia pun memutuskan untuk mengundurkan diri dan berdiam diri di kosan, tanpa keberanian untuk memberi tahu keluarganya. Raras-ibu Nala-yang kemudian mengetahui anak bungsunya sudah tidak bekerja lagi, segera mendesaknya untuk pulang. Sebelum Nala sempat menolak, Raras lebih dulu mengancam tidak akan lagi mengirimkan uang bulanan. Terpojok dan kehabisan pilihan, Nala akhirnya menyerah. Ia berkemas dan pulang ke kampung halamannya. Namun siapa sangka? Di antara hamparan sawah dan hari-hari yang membosankan di warung milik ayahnya, hadir Hanggara Wiratama (31), juragan tanah sekaligus pemilik peternakan ayam terbesar di desa tetangga, selain itu ia juga menjalankan usaha jual-beli beras yang ia bangun dari nol, tak lupa dengan usahanya di kota yang tidak banyak diketahui orang. Sosoknya yang tenang dan apa adanya membuat Nala belajar bahwa pulang bukan berarti kalah, melainkan menemukan tempat untuk tumbuh. Bersamanya, Nala menyadari bahwa tidak semua mimpi harus dikejar jauh ke kota, sebagian justru menunggu untuk ditemukan di rumah.

Detail lengkap
WpActionLinkPanduan Muatan