PROLOG
Pagi itu, sekolah terasa seperti biasa-lonceng berdenting, langkah kaki bergegas, dan suara tawa saling bersahutan di koridor. Namun, bagi Yura, hari itu adalah awal dari sesuatu yang tak pernah ia bayangkan sebelumnya. Di balik seragam putih abu-abu yang tampak sederhana, ia menyimpan hati yang pelan-pelan belajar mengenal rasa baru: gugup, berharap, dan diam-diam bahagia.
Dixie hadir seperti halaman buku yang tiba-tiba terbuka di tengah cerita hidup Yura. Sikapnya tenang, senyumnya singkat namun membekas, dan caranya memandang dunia seolah menyimpan rahasia yang tak semua orang bisa pahami. Mereka berasal dari dunia yang sama-sekolah yang sama, kelas yang sama-namun berjalan di garis cerita yang berbeda, hingga takdir mempertemukan mereka dalam cara yang sederhana, tapi bermakna.
Di antara tugas sekolah, bangku kelas, dan jam istirahat yang singkat, tumbuhlah perasaan yang perlahan mencari bentuk. Ini bukan sekadar kisah cinta remaja, melainkan cerita tentang keberanian mengakui perasaan, tentang persahabatan yang diuji, dan tentang pilihan-pilihan kecil yang mampu mengubah segalanya.
Inilah awal dari kisah cinta di sekolah Yura dan Dixie-sebuah cerita tentang dua hati yang belajar memahami arti cinta di usia yang masih rapuh, di tempat di mana segalanya bermula.
DUNIA HALU FAMS♥️
Alvas Mattheo, cowok paling sempurna di mata orang-orang. Pintar, tampan, ramah, semua predikat baik melekat padanya. Terlebih menjabat sebagai ketua OSIS di SMA-nya.
Sama halnya dengan orang-orang, Milly Oktaviani pun menganggap Alvas Mattheo memang cowok sempurna di sekolahnya. Walaupun dua tahun menjadi saingan dalam merebutkan peringkat pertama pararel, tapi Milly tak pernah menaruh rasa benci pada Alvas.
Sayangnya, predikat cowok sempurna yang melekat pada Alvas hanyalah omong kosong.
Alvas itu munafik! Dia muka dua!
Setidaknya, begitulah yang Milly pikiran setelah hari itu ia memergoki Alvas melakukan hal paling buruk di matanya.