Love is Not My Game

Love is Not My Game

  • WpView
    Reads 15
  • WpVote
    Votes 0
  • WpPart
    Parts 7
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Sun, May 31, 2026
Sejak mengetahui perselingkuhan ayahnya, Livia tumbuh dengan satu keyakinan bahwa semua laki-laki pada akhirnya hanya akan menyakiti. Baginya hubungan bukan tempat untuk bertahan, melainkan awal dari kehancuran. Karena itu ia memilih untuk tidak pernah jatuh hati. Sampai Arsen datang. Pangeran sekolah yang terkenal dengan julukan playboy. Mungkin bagi banyak orang Arsen adalah mimpi, tapi bagi Livia dia merupakan alasan untuk menjauh. Namun, semakin Livia berusaha menghindar, semakin Arsen mendekat. Bukan dengan rayuan maupun janji manis, melainkan dengan sisi dirinya yang tidak pernah ia tunjukkan pada siapa pun. Diantara trauma yang belum sembuh dan rahasia yang belum terungkap, keduanya dipaksa menghadapai satu hal yang sama-sama mereka hindari, yakni perasaan. Kali ini bukan hanya Livia yang takut jatuh cinta, namun Arsen juga. Mereka adalah dua luka yang sama, hanya berbeda cara menyembunyikannya.
All Rights Reserved
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • The Villain Mother
  • SASMITA CANDALA (21+)
  • Almost Married (END)
  • Revenge Marriage (SELESAI)
  • DOMINEX | The Crime Lock
  • Chasing Sanara
  • The Last Yes!
  • Nala dan Mas Juragan
  • I Won't Be the Tragic Fiancée (END)
  • De Andere Weg (END)

HAPPY READING ❤️‍🔥 "Eungghh..." Zeva mengerang. Hal pertama yang ia rasakan adalah kepalanya yang serasa berat dan berdenyut. Saat ia mencoba menggerakkan badan, tulang-tulangnya terasa kaku dan pegal luar biasa. "Nyonya? Nyonya Thania sudah sadar?!" sebuah suara parau penuh haru terdengar di dekat telinganya. Zeva mengerjap-erjapkan matanya yang masih buram. Begitu pandangannya fokus, ia tidak melihat langit-langit putih rumah sakit atau wajah panik orang tuanya. Alih-alih, ia menatap langit-langit kamar mewah dengan desain interior klasik yang sangat asing. "Aduh, kepala gue..." Zeva memegang keningnya, lalu menoleh ke samping. Ia terlonjak kaget melihat seorang wanita paruh baya berpakaian pelayan sedang menangis sesenggukan sambil memegang tangannya. "Akhirnya Nyonya bangun. Bibi takut sekali Nyonya kenapa-kenapa." Zeva mengernyitkan dahi. "Nyonya? Bibi?" Ia bangkit duduk dengan perlahan meski kepalanya masih berputar. Ia memandangi tangannya yang tampak lebih dewasa, lalu mengedarkan pandangan ke seluruh penjuru kamar yang luasnya tidak masuk akal itu. "S-siapa ya? Terus... ini di mana? Kok gue bisa di sini?" tanya Zeva dengan nada bingung sekaligus waspada. Wanita yang menyebut dirinya Bi Minah itu langsung terdiam, matanya membelalak kaget. "Nyonya... Nyonya tidak ingat saya? Ini rumah Nyonya sendiri, rumah Tuan Devan." Zeva tertegun. Nama-nama itu terasa tidak asing. Otaknya mencoba memproses informasi tersebut sampai akhirnya ia teringat buku novel yang ia lempar ke sofa tadi malam. "Bentar... jangan bilang gue masuk ke novel sampah itu?" gumam Zeva dengan wajah pucat pasi.

More details
WpActionLinkContent Guidelines