Sena pernah mengira pulang adalah tentang pintu yang terbuka, lampu yang menyala, dan seseorang yang menunggu.
Ia keliru.
Sena berhenti sejenak di ambang pintu dapur.
Ia melihat punggung lelaki itu. Tenang. Tidak waspada. Tidak berjaga.
Dan untuk pertama kalinya, ia tidak merasa harus menjadi apa pun.
Tidak ada pertanyaan seperti "kamu kenapa?"
Tidak ada dorongan seperti "cerita dong."
Dan justru di situlah Sena merasa aman.
Ia teringat dirinya yang dulu-yang dikelilingi banyak orang tapi tidak punya tempat meletakkan lelah. Yang mengira cinta harus selalu dimengerti, padahal ia sendiri belum siap membuka pintu. Yang kehilangan seseorang bukan karena tidak cinta, tapi karena terlalu takut berbagi beban.
Arsa pernah menjadi rumah yang ia tidak berani masuki.
Dan ia menerima, kini, bahwa tidak semua rumah ditakdirkan untuk dihuni selamanya.
Zayn berbeda.
Ia tidak datang untuk memperbaiki. Tidak datang untuk menyelamatkan. Ia hanya datang-dan tinggal.
Sena akhirnya bicara. Tentang hal kecil. Tentang pekerjaan. Tentang sesuatu yang tidak penting. Suaranya tidak bergetar. Dadanya tidak sesak. Tidak ada bagian dirinya yang merasa bersalah karena mengambil ruang.
Pulang, ternyata, adalah tentang tidak lagi menahan napas
Karena cinta, bagi mereka, tidak lagi tentang saling menggenggam erat agar tidak jatuh.
Cinta adalah duduk berdampingan, dengan luka yang masih ada, dan berkata dalam diam: aku tidak pergi.
Sena menatap ke luar jendela. Cahaya pagi masuk pelan-pelan.
Ia tidak tahu bagaimana esok. Tidak tahu apakah semua akan mudah.
Tapi ia tahu satu hal-
Ia tidak lagi ingin pergi.
"Kalau aku pasanganmu, kenapa aku tidak boleh tahu hidupmu?"
-Arsa Arven Pratam
"Ia tidak berkata semuanya akan baik-baik saja.
Ia hanya duduk dan tidak pergi."
- Zayn Omar Khareef
"mama"
"siapa lu anak monyet main manggil gua mama aja?!"
"gio kan anak mama"
"pala lu ! gua laki mana bisa jadi mama !"
"tapi jio anak mama!"
karamel atau biasa di panggil kara , di buat bingung dengan ke hadiran seorang anak laki yang di perkirakan usianya 2 tahun lebih muda darinya
yang makin membuat seorang kara bingung adalah, anak laki laki ini memanggil dirinya dengan sebutan MAMA
panggilan yang biasa untuk seorang perempuan yang sudah memiliki anak
sedangkan kara adalah seorang laki laki tulen yang hanya memiliki orientasi seksual sesama nya
gimana kehidupan kara selanjutnya setelah kehadiran anak tersebut ?
dan gimana nasib cinta kara yang telah kara perjuangkan dari 3 tahun lalu kepada darel ?
maaf masih banyak typo 🙏🏼
maaf masih banyak revisi 🙏🏼