Sena pernah mengira pulang adalah tentang pintu yang terbuka, lampu yang menyala, dan seseorang yang menunggu.
Ia keliru.
Sena berhenti sejenak di ambang pintu dapur.
Ia melihat punggung lelaki itu. Tenang. Tidak waspada. Tidak berjaga.
Dan untuk pertama kalinya, ia tidak merasa harus menjadi apa pun.
Tidak ada pertanyaan seperti "kamu kenapa?"
Tidak ada dorongan seperti "cerita dong."
Dan justru di situlah Sena merasa aman.
Ia teringat dirinya yang dulu-yang dikelilingi banyak orang tapi tidak punya tempat meletakkan lelah. Yang mengira cinta harus selalu dimengerti, padahal ia sendiri belum siap membuka pintu. Yang kehilangan seseorang bukan karena tidak cinta, tapi karena terlalu takut berbagi beban.
Arsa pernah menjadi rumah yang ia tidak berani masuki.
Dan ia menerima, kini, bahwa tidak semua rumah ditakdirkan untuk dihuni selamanya.
Zayn berbeda.
Ia tidak datang untuk memperbaiki. Tidak datang untuk menyelamatkan. Ia hanya datang-dan tinggal.
Sena akhirnya bicara. Tentang hal kecil. Tentang pekerjaan. Tentang sesuatu yang tidak penting. Suaranya tidak bergetar. Dadanya tidak sesak. Tidak ada bagian dirinya yang merasa bersalah karena mengambil ruang.
Pulang, ternyata, adalah tentang tidak lagi menahan napas
Karena cinta, bagi mereka, tidak lagi tentang saling menggenggam erat agar tidak jatuh.
Cinta adalah duduk berdampingan, dengan luka yang masih ada, dan berkata dalam diam: aku tidak pergi.
Sena menatap ke luar jendela. Cahaya pagi masuk pelan-pelan.
Ia tidak tahu bagaimana esok. Tidak tahu apakah semua akan mudah.
Tapi ia tahu satu hal-
Ia tidak lagi ingin pergi.
"Kalau aku pasanganmu, kenapa aku tidak boleh tahu hidupmu?"
-Arsa Arven Pratam
"Ia tidak berkata semuanya akan baik-baik saja.
Ia hanya duduk dan tidak pergi."
- Zayn Omar Khareef
Dewandra telah memantapkan hati untuk tidak pernah menikah. Selama 25 tahun, ia mengabdikan hidup sebagai tentara setia demi melindungi negara. Hingga di usia 41 tahun, ia diangkat menjadi pemimpin tertinggi-menyandang status RI 1.
Dua tahun menjabat pasca-lengsernya sang ayah yang merupakan Presiden ke-8, Dewandra tetap tak sedikit pun terusik oleh bayangan pernikahan. Namun, takdir rupanya punya rencana lain.
Pada perayaan Kemerdekaan RI, 17 Agustus 2025, matanya tak sengaja menangkap sosok gadis berkebaya putih dengan kain batik merah. Rambutnya tergerai indah, dihiasi senyum manis yang menawan. Meski hanya tatapan sekilas, wajah itu seolah tertanam permanen dalam ingatannya.
Gadis itu adalah Natasha Aira Van-dijk Chandramukhti-putri tunggal dari salah satu menteri di kabinetnya sendiri.