Seratus Tahun yang Lalu: Tragedi Lubang Hitam
Langit tidak lagi biru ketika The Great Void-sebuah lubang hitam raksasa-terbelah tepat di atas atmosfer bumi. Ia tidak hanya menghisap cahaya, tetapi memuntahkan kembali "manusia" yang telah terdistorsi. Mereka kembali dengan kulit sepucat bulan, taring yang tajam, dan dahaga yang tak terpadamkan. Mereka adalah Vampir, mahluk yang lahir dari kehampaan kosmis.
Awalnya, mereka bersatu di bawah satu takhta di sebuah wilayah bernama Nightvale Hollow. Namun, keabadian membawa kebosanan, dan kebosanan membawa kegilaan. Perebutan kekuasaan memicu perang saudara yang hebat. Malam itu, Nightvale Hollow terbakar. Api merah menyambar langit, menghanguskan sejarah singkat mereka dan membelah kaum abadi itu menjadi dua faksi yang saling membenci: The Purist (yang haus kekuasaan) dan The Exiles (yang mencari ketenangan).
Pelarian dan Kelelahan
Kalah dalam jumlah dan api, kelompok The Exiles memilih untuk pergi. Mereka berjalan melintasi benua selama berbulan-bulan, menghindari sinar matahari yang menyiksa di bawah jubah-jubah lusuh. Tanpa asupan darah yang cukup, tubuh mereka mulai mengkerut, lesu, dan nyaris menjadi debu.
Hingga suatu malam, dengan langkah gontai dan mata yang redup, kawanan kecil ini tersesat di sebuah pinggiran desa manusia yang terpencil. Di sana, di antara aroma tanah basah dan ketakutan penduduk desa, mereka jatuh pingsan karena kelelahan yang luar biasa. Manusia yang mereka anggap mangsa, justru menjadi saksi jatuhnya para "dewa" kegelapan yang kini tak lebih dari gelandangan yang sekarat.
Dua Belas Tahun Kemudian: Reuni Berdarah
Waktu berlalu. Dua belas tahun di dunia manusia adalah sekejap bagi vampir, namun cukup untuk mengubah segalanya. The Exiles telah berbaur, bersembunyi di balik bayang-bayang desa, mencoba melupakan masa lalu mereka yang kelam.