---
Pernikahan itu seharusnya menjadi awal kebahagiaan.
Bagiku, pernikahan justru menjadi awal dari kesepian yang paling sunyi.
Aku menikah dengan seorang pria yang tak pernah kupilih dengan sadar-
seorang dosen.
Seseorang yang namanya tercetak rapi di kartu mahasiswa milikku.
Di kampus, aku memanggilnya Pak.
Di rumah, aku adalah istrinya...
istri yang harus berpura-pura tidak mengenalnya.
Pernikahan kami terjadi bukan karena cinta,
melainkan karena keadaan yang memaksa.
Tak ada kemesraan.
Tak ada janji manis.
Hanya aturan, jarak, dan kalimat dingin yang terus mengingatkanku:
> "Di kampus, kamu mahasiswiku. Jangan pernah lupa posisi."
Aku menjalani hari-hari sebagai mahasiswi yang menyembunyikan cincin,
dan sebagai istri yang tak boleh berharap lebih.
Aku belajar menyelesaikan skripsi
sambil menahan perasaan pada pria
yang setiap hari harus kupanggil dengan formalitas.
Namun waktu perlahan mengubah segalanya.
Sikap dingin itu mulai retak.
Perhatian kecil muncul tanpa sadar.
Dan cinta-yang sejak awal kami tolak-
tumbuh diam-diam di antara deadline, revisi, dan kebohongan.
Saat perasaan semakin dalam,
dunia justru mulai mengancam.
Rumor kampus, masa lalu, dan satu kenyataan besar
memaksa kami memilih:
menjaga rahasia... atau kehilangan segalanya.
Hingga akhirnya,
sebuah kehidupan kecil hadir di antara kami.
Mengubah pernikahan yang dingin
menjadi rumah yang hangat.
Ini bukan kisah cinta yang sempurna.
Ini kisah tentang pernikahan yang dimulai tanpa cinta,
tentang dua peran yang saling melukai,
dan tentang bagaimana seseorang belajar mencintai
di tempat yang seharusnya tak pernah mengenal cinta.
Karena pada akhirnya,
aku bukan hanya mahasiswinya.
Aku adalah istrinya.
Dan dia...
adalah rumah yang akhirnya memilihku.
---
Seluruh Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang