Arkana Good Badboy

Arkana Good Badboy

  • WpView
    Reads 314
  • WpVote
    Votes 43
  • WpPart
    Parts 3
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Fri, Jan 16, 2026
[Don't copy my story! Banyak kata-kata kasar, ambil baiknya, lepeh aja jeleknya] Apa yang akan kamu lakukan kalau tiba-tiba saja, dokter bilang usiamu hanya tinggal dua belas bulan saja? Melakukan apa yang ingin kamu lakukan? Bersenang-senang? Fokus berserah diri saja pada Tuhan? Atau suntik mati saja sekalian biar tidak perlu merasakan sakitnya di ujung maut? Kalau Arkana, ia punya banyaaak sekali keinginan. Tapi yang paling Arkana inginkan, pertama Arkana ingin berbaikan dengan Mama, mendapatkan pelukan Mama. Dan yang kedua, Arkana ingin menjadi keren seperti badboy! "Cih, mana ada badboy tiap subuh salat di mesjid?" "Hei! Tapi kan Papi bilang, cowok itu wajib salat di mesjid!" Arkana mendelik, buru-buru membantah ucapan Dipta, adiknya yang mulutnya lemes itu. "Mana ada badboy spreinya hello kiti?" Arkana mendelik lagi. Langsung melempar Dipta dengan bantal sofa. "MAMI! DIPTA NIH, MI!" "Mana ada badboy aduan kek gini?" Start: 30 Januari 2024 Finish: 16 Januari 2026 Part lengkap ada di fizzo Genre: Family, brothership, sicklit, SMA, angst dan sedikit bumbu komedi
All Rights Reserved
#555
sicklit
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Berandalan di Mata Sang Tuan Muda.
  • Blueprint Pelarian Villain
  • GRAVARENZO
  • Transmigrasi Ziora
  • I'm Not Just a Figuran
  • ATLANTIS 2: PANGLIMA
  • GHAIKA (REVISI)
  • The Time
  • Tsundere Maniak Susu
  • EVANESCENT

​Suara decit sepatu basket yang bergesekan dengan lantai semen SMA Nusantara Bakti seolah menjadi satu-satunya melodi yang akrab di telinga Arga. Matahari Jakarta yang menyengat di jam 12 siang sama sekali tidak ia gubris. Peluh membasahi jersey birunya, mengalir melewati leher dan hilang di balik kain yang sudah basah kuyup. ​Bagi Arga, hanya di lapangan ini dunia terasa jujur. Di sini, musuhnya jelas: ring basket dan lawan main. Tidak ada teriakan ibunya yang melengking menyalahkan takdir, tidak ada bau alkohol dari ayahnya yang pulang pagi membawa tumpukan utang baru, dan tidak ada beban rasa bersalah setiap kali melihat kakaknya pulang kerja dengan wajah pucat demi membiayai sekolahnya. ​"Arga! Berhenti main atau gue laporin ke BK karena bolos jam sejarah lagi!" ​Arga menghentikan dribel bolanya. Ia menoleh, menyeka keringat dengan punggung tangan, lalu menyeringai tipis melihat pengurus OSIS yang berdiri di pinggir lapangan dengan buku catatan. ​"Laporin aja," sahut Arga santai. "Ruang BK udah kayak rumah kedua buat gue, sekalian titip salam buat Pak Hendra." ​Di sisi lain koridor sekolah yang lebih dingin karena hembusan AC, melangkah sosok yang menjadi pusat gravitasi SMA Nusantara Bakti. Adrian. ​Setiap langkahnya terukur, seragamnya rapi tanpa cela, dan wajah blasterannya yang seolah dipahat langsung oleh malaikat, selalu memasang ekspresi datar yang sulit ditembus. Sebagai Ketua OSIS sekaligus putra tunggal dari pemilik Arsenio Group, Adrian adalah definisi kesempurnaan yang nyata. Hidupnya adalah garis lurus yang tenang, penuh fasilitas, dan kasih sayang yang melimpah. ​⊹ ࣪ ﹏𓊝﹏𓂁﹏⊹ ࣪ ˖⊹ ࣪ ﹏𓊝﹏𓂁﹏⊹ ࣪ ˖ WARNING ⚠ - b×b - BL lokal - Mpreg - ini cerita bl, awas jangan salah lapak. - banyak typo bertebaran.

More details
WpActionLinkContent Guidelines