TEMEN TSUNDERE

TEMEN TSUNDERE

  • WpView
    Reads 4,048
  • WpVote
    Votes 144
  • WpPart
    Parts 9
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Thu, Apr 9, 2026
Anak-anak Teknik lain langsung menyambar gelas masing-masing, siap untuk pesta kecil-kecilan. Rian yang melihat cairan merah itu terlihat segar dan mewah, refleks menjulurkan tangannya mau mengambil satu gelas. Plak! Saka dengan sigap menepis pelan tangan Rian sebelum sempat menyentuh gelas itu. "Apa-apaan? Lo nggak boleh minum itu, Rian," tegas Saka dengan nada suara yang langsung berubah serius. Rian mengerucutkan bibirnya, mode manjanya keluar lagi. "Sedikiiit aja, Sak. Baunya enak, kayak jus anggur. Lagian kan lagi pesta, masa Rian cuma minum air mineral doang?" "Nggak ada. Lo lagi hamil, Rian. Alkohol itu bahaya buat bayi kita," Saka menatap Rian tajam, memberikan proteksi maksimal sebagai calon ayah. "Miko, jangan ada yang kasih Rian wine. Kalau sampai dia minum, gue balik sekarang juga."
All Rights Reserved
#140
fakultas
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Berandalan di Mata Sang Tuan Muda.
  • ATLANTIS 2: PANGLIMA
  • Blueprint Pelarian Villain
  • Transmigrasi Ziora
  • I'm Not Just a Figuran
  • EVANESCENT (HIATUS)
  • GHAIKA (REVISI)
  • The Time
  • GRAVARENZO
  • Tsundere Maniak Susu

​Suara decit sepatu basket yang bergesekan dengan lantai semen SMA Nusantara Bakti seolah menjadi satu-satunya melodi yang akrab di telinga Arga. Matahari Jakarta yang menyengat di jam 12 siang sama sekali tidak ia gubris. Peluh membasahi jersey birunya, mengalir melewati leher dan hilang di balik kain yang sudah basah kuyup. ​Bagi Arga, hanya di lapangan ini dunia terasa jujur. Di sini, musuhnya jelas: ring basket dan lawan main. Tidak ada teriakan ibunya yang melengking menyalahkan takdir, tidak ada bau alkohol dari ayahnya yang pulang pagi membawa tumpukan utang baru, dan tidak ada beban rasa bersalah setiap kali melihat kakaknya pulang kerja dengan wajah pucat demi membiayai sekolahnya. ​"Arga! Berhenti main atau gue laporin ke BK karena bolos jam sejarah lagi!" ​Arga menghentikan dribel bolanya. Ia menoleh, menyeka keringat dengan punggung tangan, lalu menyeringai tipis melihat pengurus OSIS yang berdiri di pinggir lapangan dengan buku catatan. ​"Laporin aja," sahut Arga santai. "Ruang BK udah kayak rumah kedua buat gue, sekalian titip salam buat Pak Hendra." ​Di sisi lain koridor sekolah yang lebih dingin karena hembusan AC, melangkah sosok yang menjadi pusat gravitasi SMA Nusantara Bakti. Adrian. ​Setiap langkahnya terukur, seragamnya rapi tanpa cela, dan wajah blasterannya yang seolah dipahat langsung oleh malaikat, selalu memasang ekspresi datar yang sulit ditembus. Sebagai Ketua OSIS sekaligus putra tunggal dari pemilik Arsenio Group, Adrian adalah definisi kesempurnaan yang nyata. Hidupnya adalah garis lurus yang tenang, penuh fasilitas, dan kasih sayang yang melimpah. ​⊹ ࣪ ﹏𓊝﹏𓂁﹏⊹ ࣪ ˖⊹ ࣪ ﹏𓊝﹏𓂁﹏⊹ ࣪ ˖ WARNING ⚠ - b×b - BL lokal - Mpreg - ini cerita bl, awas jangan salah lapak. - banyak typo bertebaran.

More details
WpActionLinkContent Guidelines