son?
  • WpView
    Reads 129
  • WpVote
    Votes 19
  • WpPart
    Parts 5
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Wed, Mar 11, 2026
cukup hidup kalaupun kamu tidak mengenal siapapun didunia ini, berusaha lah karna kamu pasti akan dipertemukan dengan orang baik dan kalaupun diawal saja kamu tidak bertemu orang baik maka bersabarlah karna bersabar dan terus berusaha adalah jalan terbaik.
All Rights Reserved
#34
lonely
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Seven Seasons || NCT Dream
  • Seven Salvian : Holding on together
  • Tujuh Hati, Satu Rumah
  • The Frame Distance
  • Pulang [END]
  • Untuk Askara kami
  • Heirs Of A Lie
  • BAD LIFE
  • Allagi Valtra
  • SATU JANTUNG DUA NAMA

Ada orang yang lahir dengan rumah yang jelas bentuknya-dinding yang melindungi, pintu yang selalu terbuka untuk pulang. Namun bagi sebagian yang lain, rumah bukanlah tempat. Ia adalah perjalanan panjang yang dipenuhi pertemuan, kehilangan, dan musim-musim yang datang silih berganti di dalam hati. Cerita ini adalah tentang mencari arti rumah yang sesungguhnya. Di perjalanan itu, hidup menghadirkan banyak musim. Ada musim semi, yang menanam harapan seperti benih di tanah yang baru saja pulih dari dingin-mengajarkan bahwa bunga tidak pernah terburu-buru untuk tumbuh. Ada awal musim semi, yang berdiri tegak dalam diam, tidak banyak bicara, namun tak pernah membungkuk meski badai datang berkali-kali. Ada akhir musim panas, yang mengajarkan bahwa jeda bukanlah kegagalan, melainkan ruang kecil yang diberikan hidup agar seseorang bisa kembali bernapas. Ada musim gugur, yang menggugurkan segala kepura-puraan dan memaksa kejujuran keluar dari tempat paling dalam, meski rasanya pahit dan menyakitkan. Ada musim panas, yang menertawakan hidup begitu keras hingga kesedihan pun lupa caranya menetap terlalu lama. Dan ada musim dingin, yang tidak menyembuhkan dengan kata-kata indah, melainkan dengan kehadiran yang tenang-seperti embun pagi yang jatuh tanpa suara. Musim-musim itu datang, pergi, dan meninggalkan jejak yang tak terlihat. Perlahan, tanpa disadari, semuanya hidup di dalam dirinya-mengajarkannya cara menghadapi hidup, cara bertahan, dan cara pulang. Sampai akhirnya ia mengerti: rumah yang sesungguhnya bukanlah tempat yang selalu menunggu di ujung jalan. Rumah adalah semua musim yang pernah datang- dan bagaimana kita membiarkannya hidup di dalam diri kita.

More details
WpActionLinkContent Guidelines