Tidak semua pertemuan dimulai dengan kesan yang baik, ada yang datang dengan jarak, prasangka, dan perasaan tidak suka yang terasa begitu pasti.
Sejak pertama kali dipertemukan dalam Mapagama, Arash sudah terasa seperti dinding yang terlalu kokoh dan kaku, juga enggan untuk sekadar menyapa. Di mata Sabitha, dia adalah definisi manusia menyebalkan, karena sifat perfeksionisnya yang berlebihan.
Sementara Sabitha terbiasa terlihat baik-baik saja, ia mudah berbaur, hangat, dan selalu tahu bagaimana membuat dirinya tampak utuh di depan orang lain. Tapi tidak banyak yang tahu, ada bagian dalam dirinya yang pernah retak dan sejak itu, ia belajar menyimpan banyak hal sendirian.
Dan mungkin, itu alasan kenapa ia begitu tidak menyukai Arash, karena sikapnya terasa seperti cermin dari sesuatu yang berusaha ia hindari.
Sialnya, semesta seperti punya selera humor yang buruk.
Dari sekian banyak kemungkinan, mereka justru dipertemukan dalam satu kelompok KKN selama dua bulan.
Awalnya terasa seperti sebuah hukuman bagi Sabitha. Namun, waktu punya caranya sendiri untuk menggeser cara pandang seseorang.
Di antara hari-hari yang melelahkan, percakapan kecil yang tak disengaja, dan momen hening yang tak terjelaskan, Sabitha mulai melihat sesuatu yang tak pernah ia duga sebelumnya, retakan kecil di balik sikap apatis Arash. Sisi yang lebih manusiawi dan rapuh.
Dan tanpa ia sadari, sesuatu dalam dirinya ikut perlahan terbuka, tapi Arash bukanlah seseorang yang mudah dibaca.
Ada bagian dari dirinya yang tetap terkunci rapat dan ada jarak yang tidak pernah benar-benar hilang, seolah ia sedang menjaga sesuatu. Tanpa mereka sadari, semakin lama waktu berjalan garis di antara mereka bukan semakin menjauh, melainkan perlahan saling menuju.
Seolah ada sesuatu yang telah lebih dulu ada dan kini mulai menemukan jalannya kembali.
All Rights Reserved