
Di dunia ini, ada benang yang tak terlihat merah, tipis, dan lembut mengikat dua jiwa yang bahkan belum saling mengenal. Konon, red string tak pernah putus. Ia boleh kusut, meregang, bahkan tertutup jarak dan waktu, tetapi ujungnya selalu berakhir pada orang yang sama. Di bawah langit yang sama, mereka menjalani hidup masing-masing tanpa saling tahu keberadaan satu sama lain. Tidak ada rasa penasaran. Tidak ada doa yang diam-diam menyebut nama asing. Bahkan, tidak ada bayangan bahwa di luar lingkar hidup yang mereka kenal, ada seseorang yang berjalan dengan langkah takdir yang searah. Yang satu hidup dengan rutinitasnya pagi yang selalu terburu-buru, malam yang sering terlalu sunyi. Ia sibuk bertahan, mengira hidup hanya soal hari ini dan besok. Cinta bukan sesuatu yang ia pikirkan; masa depan terasa terlalu jauh untuk ditebak. Yang satu lagi pun sama. Menjalani hari tanpa menunggu siapa pun. Tidak mencari, tidak berharap. Hidup baginya hanyalah rangkaian kewajiban yang harus diselesaikan, bukan cerita yang menunggu pertemuan besar. Mereka tidak saling memikirkan, karena memang tidak ada alasan untuk itu. Tidak ada titik temu. Tidak ada garis yang tampak mengarah satu sama lain. Namun benang merah itu tetap ada. Diam-diam ia melilit pergelangan tangan mereka, mengikuti setiap keputusan kecil yang tampak sepele pilihan jalan, perubahan rencana, langkah yang terlambat atau terlalu cepat. Bukan untuk mempertemukan mereka hari itu, bukan juga esok. Hanya untuk memastikan mereka terus berjalan. Karena ada pertemuan yang tidak lahir dari keinginan, melainkan dari waktu yang akhirnya merasa siap. Dan saat hari itu tiba, mereka akan bertemu bukan sebagai dua orang yang saling mencari melainkan sebagai dua jiwa yang akhirnya sampai.All Rights Reserved
1 part