Garis Patah adalah sebuah kisah nonfiksi bernuansa reflektif yang bercerita tentang perjalanan hidup Yosua, seorang siswa SMA di kota Pematangsiantar-kota kecil yang hangat, tapi penuh dinamika dan tekanan tak kasat mata. Novel ini bukan tentang kesempurnaan, melainkan tentang garis-garis hidup yang retak, patah, lalu perlahan disusun kembali.
Yosua diterima di salah satu sekolah bergengsi di kota itu. Dari luar, semuanya tampak ideal: seragam rapi, gedung megah, dan ekspektasi tinggi dari keluarga maupun lingkungan. Namun di balik itu, ia harus belajar berdiri di antara ambisi, rasa minder, dan tuntutan untuk "menjadi seseorang". Hari-harinya dipenuhi bukan hanya oleh pelajaran di kelas, tetapi juga pelajaran hidup yang tak pernah tertulis di buku.
Cerita mengalir lewat pengalaman pertemanan-tentang tawa di kantin, obrolan random sepulang sekolah, konflik kecil yang terasa besar, dan teman-teman yang datang lalu pergi. Di luar sekolah, Yosua menemukan versi dirinya yang lain: lebih bebas, lebih jujur, namun juga lebih rapuh. Kota Pematangsiantar menjadi saksi bisu perjalanan itu-jalan-jalan yang akrab, tempat nongkrong sederhana, dan malam-malam penuh pikiran.
Tak ketinggalan, novel ini juga menyentuh kisah percintaan remaja yang manis sekaligus menyakitkan. Tentang rasa suka yang tumbuh diam-diam, harapan yang terlalu tinggi, dan patah hati pertama yang mengubah cara Yosua memandang dirinya sendiri. Cinta hadir bukan sebagai akhir bahagia, melainkan sebagai proses pendewasaan.
Garis Patah ditulis dengan gaya ringan, jujur, dan dekat dengan bahasa anak zaman sekarang-aesthetic, namun tetap membumi. Novel ini mengajak pembaca untuk berdamai dengan ketidaksempurnaan, karena hidup tidak selalu berjalan lurus. Kadang ia patah, dan dari situlah kita belajar untuk tumbuh.
Todos los derechos reservados