"Setiap manusia itu memiliki dunianya masing-masing. Anehnya, dari miliyaran manusia di alam semesta yang luas ini, dunia kamu dan akulah yang saling bersinggungan. Menjadikan kamu dan aku satu, bukan sebagai kita, tapi Angkasaraya yang luas dengan dua hati sebagai pusatnya." - Araya Lilium Anindya.
---
'apa yang paling menyakitkan tentang mencintai seseorang selama lebih dari sepuluh tahun?'
Araya telah ratusan kali menulis suka dan dukanya dalam mencintai sosok Angkasa Elnath Dharmawangsa di tiap lembar kertasnya yang perlahan menguning. Ia menulis, "Detik ketika aku menyelam ke dalam pusaran cinta di kedalaman mata indahmu yang bukan aku sosok bayangan terpantul di dalamnya, menit ketika aku sadar bahwa melihatmu menggenggam tangan orang lain tidak lagi membangkitkan amarah yang mampu mebakar diriku, waktu ketika aku tersadar, dalam angan-angan masa depan milikmu, aku selalu ada, tetapi tidak pernah dibiarkan untuk menggenggam tanganmu erat, pada saat itu, sudah hancur seluruh harap dan cintaku untukmu, tetapi enggan aku lepas dirimu."
Rupanya, mencintai sendirian dan kemudian patah hati sendirian tanpa memiliki siapapun untuk disalahkan sangat menyakitkan. Oleh karena itu, sosok lembut dan penuh kasih seperti Araya yang telah begitu remuk hatinya memilih berpaling menjauh, pada akhirnya ia juga merasa jenuh dengan perasaan miliknya sendiri.
Siapa sangka, hari di mana Araya berjalan menjauh, kaki panjang Angkasa mengejar langkah milik Araya, menarik benang-benang kusut dan penuh dengan status ambigu di antara keduanya.
Ini adalah kisah di mana yang satu telah begitu sabar menunggu yang lain untuk menoleh padanya hingga hatinya remuk berkali-kali, tetapi ia masih belum mampu melepaskan. Sementara itu yang lainnya tulus menyayangi yang lebih muda sebagai adik kecil yang lucu.
Katanya mencitai orang asing lebih mudah dibandingkan mengubah 'cinta' yang sudah ada. Namun di kisah ini, biarkan Angkasa dan Araya membuktikan sendiri garis takdir yang mereka punya.
Todos os Direitos Reservados