Bagi Arini, setiap sudut kota ini adalah ranjau darat yang siap meledakkan ingatannya. Setahun yang lalu, sebuah kecelakaan tragis merenggut Rehan, kekasih sekaligus separuh jiwanya. Arini selamat secara fisik, namun secara mental, ia tertinggal di malam berdarah itu. Ia didiagnosis mengidap PTSD (Post-Traumatic Stress Disorder) yang parah-hidupnya dipenuhi oleh halusinasi aroma bensin, suara decit ban yang memekakkan telinga, dan serangan panik yang bisa datang hanya karena mendengar suara klakson.
Di tengah perjuangannya untuk kembali "waras", Arini justru dihadapkan pada sebuah kemustahilan yang kejam. Ia bertemu dengan Adrian Mahendra, seorang arsitek sukses yang baru pindah ke Jakarta.
Adrian memiliki wajah yang identik dengan almarhum Rehan-garis rahang yang sama, mata cokelat yang sama, bahkan tahi lalat di posisi yang sama. Namun, di balik wajah itu, Adrian adalah antitesis dari Rehan. Jika Rehan adalah pria hangat yang penuh tawa dan warna, Adrian adalah pria yang dingin, kaku, gila kerja, dan hanya mengenal warna hitam. Ia tidak mengenal Arini, dan yang lebih menyakitkan, ia memandang Arini dengan tatapan asing yang penuh rasa risih.
Bersama Dimas, sahabat karib mendiang Rehan yang juga terkejut dengan kemiripan Adrian, Arini mulai menelusuri jejak pria itu. Namun, semakin ia mendekat, semakin Arini menyadari bahwa Adrian menyembunyikan rahasia besar di balik sikap dinginnya.
Di kota yang tak lagi sama ini, Arini harus berjuang melawan bayang-bayang di kepalanya. Apakah Adrian adalah keajaiban yang diberikan semesta untuk menyembuhkannya, ataukah ia justru malaikat maut yang dikirim untuk menarik Arini lebih dalam ke jurang kegilaan?
"Aku tidak tahu mana yang lebih menyakitkan; melihatmu mati berkali-kali di dalam kepalaku, atau melihatmu hidup kembali tapi tidak mengenalku sama sekali."
Jangan lupa follow dan vote ceritanya ya 🌻
Enjoy my story full of struggles 💓
All Rights Reserved