one heart

one heart

  • WpView
    Reads 60
  • WpVote
    Votes 22
  • WpPart
    Parts 7
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Sat, Jan 31, 2026
Dalam kehidupan ini, orang baik sering terluka oleh dunia yang kejam, seperti bunga yang mekar di batu cadas, dipukul hujan dan diterpa angin tanpa ampun. Harapan yang digenggam terkadang hancur, bagai cermin yang pecah di lantai dingin, meninggalkan serpihan tajam yang menembus jiwa. Namun, di balik semua itu,dunia seolah menitipkan hadiah untuk orang itu, seperti ada hati yang sudah ditakdirkan untuk satu pemilik, satu jiwa; hati yang akan menjadi penyembuh atas semua luka yang di hadirkan semesta, bagaikan bintang yang selalu menemukan langitnya sendiri, tak peduli seberapa gelap malam, seberapa berat badai yang menerpa, atau seberapa sering dunia merenggut tawa dan senyum mereka... hati itu akan selalu kembali ke pemiliknya sendiri, menjadikan 2 jiwa yang sudah ditakdirkan menjadi satu hati. ‎Tentang...orang2 yang tetap memilih untuk bertahan meskipun tau bahwa belum tentu akan ada lagi harapan di masa depan... ‎"Selamat datang kembali...sang pemilik hati." ‎~NAREN MERGAVICK ‎
(CC) Attribution-ShareAlike
#101
komedy
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Nala dan Mas Juragan
  • EGLLAR MY PERFECT HUSBAND [END]
  • Rencana Pensiun Dini Nona Villain
  • Kembang Desa
  • Salah Status
  • Nakula
  • Candu Sentuhan Sahabat Hyper
  • Hello Mr. Komrad (Complete)
  • Prahara Lamaran [END]
  • Stand by Me (END+LENGKAP)

Setelah menyelesaikan kuliahnya, Kanala Ayudia Kirana (22) diminta oleh keluarganya untuk pulang ke kampung halaman dan tidak perlu bersusah payah mencari pekerjaan di ibu kota. Namun, Nala menolak dengan alasan tidak ingin menyia-nyiakan gelar di belakang namanya. Ia bersikeras ingin mencari pengalaman kerja selama satu tahun terlebih dahulu sebelum benar-benar menetap di kampung. Keluarganya akhirnya menyetujui, dengan satu syarat: Nala hanya boleh bekerja selama satu tahun, tidak lebih. Sayangnya, baru tiga bulan bekerja di salah satu perusahaan ternama, Nala menyerah. Tekanan pekerjaan yang tinggi dan lingkungan kantor yang tidak sesuai dengan ekspektasinya membuatnya kehilangan semangat. Ia pun memutuskan untuk mengundurkan diri dan berdiam diri di kosan, tanpa keberanian untuk memberi tahu keluarganya. Raras-ibu Nala-yang kemudian mengetahui anak bungsunya sudah tidak bekerja lagi, segera mendesaknya untuk pulang. Sebelum Nala sempat menolak, Raras lebih dulu mengancam tidak akan lagi mengirimkan uang bulanan. Terpojok dan kehabisan pilihan, Nala akhirnya menyerah. Ia berkemas dan pulang ke kampung halamannya. Namun siapa sangka? Di antara hamparan sawah dan hari-hari yang membosankan di warung milik ayahnya, hadir Hanggara Wiratama (31), juragan tanah sekaligus pemilik peternakan ayam terbesar di desa tetangga, selain itu ia juga menjalankan usaha jual-beli beras yang ia bangun dari nol, tak lupa dengan usahanya di kota yang tidak banyak diketahui orang. Sosoknya yang tenang dan apa adanya membuat Nala belajar bahwa pulang bukan berarti kalah, melainkan menemukan tempat untuk tumbuh. Bersamanya, Nala menyadari bahwa tidak semua mimpi harus dikejar jauh ke kota, sebagian justru menunggu untuk ditemukan di rumah.

More details
WpActionLinkContent Guidelines