Kalau ada kompetisi tingkat dunia untuk kategori manusia paling tidak sabaran, gue yakin pialanya bakal jatuh ke tangan gue tanpa perlu seleksi ketat. Nama gue Aulia Zahra Kirana. Hidup gue itu isinya cuma dua hal. Pertama, jadwal lomba yang padatnya melebihi jadwal menteri. Kedua, urusan memperbaiki akhlak orang di sekitar gue yang sering bikin elus dada.
Gue tumbuh di keluarga yang bisa dibilang lurus. Papa imam masjid, Mama guru ngaji, dan gue? Gue adalah produk mereka yang paling cerewet tapi kalau soal otak jangan ditanya. Gue pintar, gue ambisius, dan gue paling anti sama orang yang hidupnya cuma santai-santai kayak nggak punya beban akhirat.
Lalu ada Bian.
Laki-laki yang menurut gue adalah definisi dari gangguan ketenangan publik. Dia ganteng, oke, gue akui itu. Tapi dia itu ibarat rem blong di jalan tol. Lambat, berantakan, dan kalau adzan berkumandang dia malah asyik main game di pojokan kantin. Gue nggak pernah mengerti kenapa semesta hobi banget mempertemukan gue sama dia.
"Aulia, pelanin dikit suaranya. Nggak enak didengar orang," itu kata Mama setiap kali gue mulai keluar mode ngegas.
Tapi gimana mau pelan kalau tiap hari ada saja kelakuan Bian yang bikin urat leher gue mau putus? Dia itu santai banget sampai di titik yang menyebalkan. Kita berdua itu kayak minyak dan air. Nggak akan pernah bisa nyatu, apalagi kalau harus jalan bareng.
Gue nggak pernah membayangkan kalau hidup gue yang tertata rapi ini bakal berantakan cuma karena satu orang yang hobi telat sholat itu. Dan gue juga nggak pernah tahu bahwa di balik sikap cueknya yang minta ampun, Bian menyimpan sesuatu yang nggak pernah gue duga sama sekali.
Ini bukan cuma cerita tentang gue yang hobi marah-marah, tapi tentang bagaimana semesta punya cara bercanda yang paling lucu buat menyatukan dua orang yang paling nggak cocok di dunia ini.
Siapkan telinga kalian, karena hidup bareng gue nggak akan pernah ada kata tenang.
Seluruh Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang