When Our Words Aligned

When Our Words Aligned

  • WpView
    Reads 55
  • WpVote
    Votes 8
  • WpPart
    Parts 4
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Sat, Jan 31, 2026
Di dunia setiap manusia berbicara dengan bahasa jiwa yang unik dan tak tertandingi, dua orang menemukan bahwa kosakata kesedihan, sukacita, dan kerinduan mereka memiliki kemiripan yang menggetarkan-seakan-akan jiwa mereka menyanyikan melodi yang sama, sejak lama sebelum mereka bertemu. "Lo tau ngga, sebenernya lo itu kayak penerjemah Google yang kaku. Bisa ngasih terjemahan, tapi ngga pernah nangkep bahasa jiwanya sendiri." "Kalau jiwa lo sebening musik sampah ini, gue lebih milih jadi robot!" ⌗ ⋆🎧⟡📷⟡♪⋆ ⌗ "Lo... sering ngerasa kayak gitu? Sepi yang diatur rapi?" "Lo pernah ngerasa kayak buku yang ngga sejajar itu?" When Our Words Aligned adalah kisah tentang menemukan rumah di dalam bahasa orang lain. Sebuah eksplorasi tentang keintiman, kerentanan, dan revolansi diam-diam yang terjadi ketika dua hati menemukan bahwa, di tengah miliaran dialek yang berbeda, mereka entah bagaimana berasal dari bahasa yang sama.
All Rights Reserved
#887
youngadult
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Nala dan Mas Juragan
  • R E V E R I E | OngNiel
  • The Story of Ocean & Air
  • WEDDING VOWS
  • You Are My Mate? (END)
  • A President Wife is a Man [TAMAT]
  • That Autumn - Winwin ✔️
  • Beautiful Trouble
  • CS Kentel✔
  • Kembang Desa

Cerita ini ada di paijo juga. --- Setelah menyelesaikan kuliahnya, Kanala Ayudia Kirana (22) diminta oleh keluarganya untuk pulang ke kampung halaman dan tidak perlu bersusah payah mencari pekerjaan di ibu kota. Namun, Nala menolak dengan alasan tidak ingin menyia-nyiakan gelar di belakang namanya. Ia bersikeras ingin mencari pengalaman kerja selama satu tahun terlebih dahulu sebelum benar-benar menetap di kampung. Keluarganya akhirnya menyetujui, dengan satu syarat: Nala hanya boleh bekerja selama satu tahun, tidak lebih. Sayangnya, baru tiga bulan bekerja di salah satu perusahaan ternama, Nala menyerah. Tekanan pekerjaan yang tinggi dan lingkungan kantor yang tidak sesuai dengan ekspektasinya membuatnya kehilangan semangat. Ia pun memutuskan untuk mengundurkan diri dan berdiam diri di kosan, tanpa keberanian untuk memberi tahu keluarganya. Raras-ibu Nala-yang kemudian mengetahui anak bungsunya sudah tidak bekerja lagi, segera mendesaknya untuk pulang. Sebelum Nala sempat menolak, Raras lebih dulu mengancam tidak akan lagi mengirimkan uang bulanan. Terpojok dan kehabisan pilihan, Nala akhirnya menyerah. Ia berkemas dan pulang ke kampung halamannya. Namun siapa sangka? Di antara hamparan sawah dan hari-hari yang membosankan di warung milik ayahnya, hadir Hanggara Wiratama (31), juragan tanah sekaligus pemilik peternakan ayam terbesar di desa tetangga, selain itu ia juga menjalankan usaha jual-beli beras yang ia bangun dari nol, tak lupa dengan usahanya di kota yang tidak banyak diketahui orang. Sosoknya yang tenang dan apa adanya membuat Nala belajar bahwa pulang bukan berarti kalah, melainkan menemukan tempat untuk tumbuh. Bersamanya, Nala menyadari bahwa tidak semua mimpi harus dikejar jauh ke kota, sebagian justru menunggu untuk ditemukan di rumah.

More details
WpActionLinkContent Guidelines