The Script of Our Destiny
Disclaimer!!!!!
1. Disini Enjoy futa
2. Homophobic gausah mampir skip aja
3. Hanya fiksi
Bagi Ayyana Pramadya Xavellyn, Antares Hiraka Gavintara adalah rumah. Sosok yang selalu ada untuk membenarkan tali sepatunya yang lepas, menghapus noda cokelat di sudut bibirnya, hingga menjadi pendengar setia dari segala celotehan tidak masuk akalnya. Persahabatan mereka sedalam samudra dan seerat itu-hingga tak ada satu pun orang asing yang sanggup masuk ke dalam lingkaran mereka.
Sepuluh tahun lalu, di bawah langit senja lapangan sekolah yang mulai meredup, Ayyana pernah melempar sebuah janji konyol sebagai bahan candaan. "Res, kalau diumur tiga puluh kita berdua belum nikah, kita nikah aja ya?."
Ares hanya mendengus, namun matanya menatap Ayyana dengan intensitas yang tidak pernah disadari gadis itu. "Oke. Jangan menyesal."
Kini, jarum jam seolah berputar terlalu cepat. Di ambang usia tiga puluh, Ayyana mendapati dirinya berdiri di persimpangan jalan-patah hati, tuntutan keluarga, dan ketakutan akan kesendirian. Ia menganggap janji masa SMA itu hanyalah angin lalu, sebuah perkataan untuk mencairkan suasana.
Namun bagi Ares, janji itu adalah kontrak mati. Ia tidak pernah mencari yang lain, karena baginya, sepuluh tahun hanyalah waktu tunggu untuk membuktikan bahwa mencintai sahabat sendiri adalah rencana paling indah sekaligus paling berbahaya yang pernah ia jalani.
Saat kalender menunjukkan angka tiga puluh, Ares datang menagih janji. Bukan dengan candaan, melainkan dengan sebuah keseriusan yang membuat Ayyana sadar bahwa sahabatnya tidak pernah main-main.