Pernikahan LingLing dan Orm terlihat utuh di mata siapa pun. Dua perempuan yang saling mencintai, telah lama bersama, dan berencana membangun keluarga lewat program IVF impian yang seharusnya menjadi bab baru dalam hidup mereka.
Namun, setiap kali Orm membicarakan masa depan dan keinginan memiliki anak, Ling selalu menunda. Selalu ada alasan. Waktu yang belum tepat. Pekerjaan. Kesiapan mental. Hingga Orm mulai merasa sendirian dalam pernikahan yang seharusnya mereka jalani berdua.
Tanpa Orm ketahui, penundaan itu bukan tentang ketakutan... melainkan pengkhianatan.
Ling menjalin hubungan terlarang dengan satu-satunya orang yang paling dipercaya Orm sahabat terbaiknya sendiri.
Di tengah retaknya rumah tangga, Orm hanya mampu meluapkan luka dan kebingungannya pada Bam, tempat aman untuk bercerita tentang keluarga, cinta, dan rasa curiga yang tak berani ia ucapkan pada Ling. Sedikit demi sedikit, kebenaran mulai menampakkan bayangannya.
Karena terkadang, yang menghancurkan sebuah cinta bukan orang luar melainkan duri yang tumbuh diam-diam di dalamnya.
Tidak semua orang kalah karena tidak dicintai.
Sebagian kalah karena terlalu lama mengalah.
Ling tahu perasaan itu datang jauh sebelum ia siap.
Ia menyukainya dalam diam, dalam jarak aman, dalam waktu yang tidak pernah ia akui sebagai miliknya.
Bukan karena ia pengecut,
tapi karena ada hal-hal yang lebih ia jaga daripada hatinya sendiri.
Sahabatnya.
Ia selalu percaya, mencintai tidak harus memiliki.
Cukup melihat orang yang ia sayangi bahagia, itu sudah lebih dari cukup.
Setidaknya, itulah yang selalu ia katakan pada dirinya sendiri.
Sampai suatu hari, ia menyadari satu hal sederhana
bahwa mengalah tidak selalu berarti mulia
dan diam tidak selalu berarti kuat.
Kadang, itu hanya cara paling pelan untuk terluka.
Dan ketika ia akhirnya berani bertanya pada dirinya sendiri
apakah ia pernah benar-benar punya kesempatan
jawabannya sudah terlambat untuk diubah.