Di usia tujuh tahun, dunia Arga runtuh bersama kepergian ibunya. Ayahnya menikah lagi, lalu perlahan menghilang-bukan secara fisik, tetapi sebagai sosok yang seharusnya peduli. Tanpa pelukan keluarga, Arga tumbuh sendiri di Jogja selama tiga belas tahun, belajar hidup dari luka, kesepian, dan kerasnya realita.
Di usia sembilan belas tahun, Arga berdiri sebagai bukti bahwa kehilangan tidak selalu mematahkan, tetapi justru membentuk. Novel ini adalah kisah tentang anak yang dibesarkan oleh sunyi, tentang kota yang menjadi rumah pengganti, dan tentang bertahan ketika tidak ada siapa pun yang menggenggam tanganmu.
All Rights Reserved