"The Space Between Our Prayers"

"The Space Between Our Prayers"

  • WpView
    Reads 32
  • WpVote
    Votes 4
  • WpPart
    Parts 9
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Thu, Jan 22, 2026
WpInfo
Fiction
Romance
Tagsjjxiel
"Dua amin yang berbeda, di bawah langit yang sama." Arkan Syailendra Putra dan Elena Gracia Panjaitan telah menjadi pusat gravitasi bagi satu sama lain sejak bangku sekolah. Bagi Arkan, Elena adalah cahaya yang menenangkan; bagi Elena, Arkan adalah rumah yang selalu terbuka. Persahabatan mereka tumbuh begitu organik, hingga tanpa sadar, rasa nyaman itu berubah menjadi cinta yang mendalam-jenis cinta yang seharusnya menjadi anugerah, namun bagi mereka, terasa seperti sebuah ujian. Di antara tawa dan rahasia yang mereka bagi, ada sebuah tembok yang tak terlihat namun terasa nyata setiap kali lonceng gereja berbunyi atau suara azan berkumandang. Arkan adalah tiang bagi keluarga Muslimnya yang taat, sementara Elena adalah mutiara bagi keluarga besarnya yang menjunjung tinggi warisan iman Kristiani. Ketika perasaan mereka tidak lagi bisa disembunyikan, keduanya dipaksa menghadapi kenyataan pahit: bahwa mencintai satu sama lain berarti harus mempertanyakan kesetiaan mereka pada Tuhan dan keluarga. Mereka terjebak dalam ruang hampa di antara dua doa yang tulus, namun tak kunjung bertemu di satu titik temu. Akankah cinta cukup kuat untuk meruntuhkan tembok perbedaan, ataukah mereka harus merelakan satu sama lain demi menjaga kesucian iman masing-masing? Ini adalah kisah tentang pilihan, pengorbanan, dan pencarian jawaban atas pertanyaan yang paling sulit: Bisakah dua orang tetap bersama, jika jalan menuju Tuhan yang mereka tempuh berbeda arah?
All Rights Reserved
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Berandalan di Mata Sang Tuan Muda.
  • Blueprint Pelarian Villain [END]
  • GRAVARENZO
  • Tsundere Maniak Susu
  • EVANESCENT (HIATUS)
  • The Time
  • I'm Not Just a Figuran
  • GHAIKA (REVISI)
  • ATLANTIS 2: PANGLIMA
  • Transmigrasi Ziora

​Suara decit sepatu basket yang bergesekan dengan lantai semen SMA Nusantara Bakti seolah menjadi satu-satunya melodi yang akrab di telinga Arga. Matahari Jakarta yang menyengat di jam 12 siang sama sekali tidak ia gubris. Peluh membasahi jersey birunya, mengalir melewati leher dan hilang di balik kain yang sudah basah kuyup. ​Bagi Arga, hanya di lapangan ini dunia terasa jujur. Di sini, musuhnya jelas: ring basket dan lawan main. Tidak ada teriakan ibunya yang melengking menyalahkan takdir, tidak ada bau alkohol dari ayahnya yang pulang pagi membawa tumpukan utang baru, dan tidak ada beban rasa bersalah setiap kali melihat kakaknya pulang kerja dengan wajah pucat demi membiayai sekolahnya. ​"Arga! Berhenti main atau gue laporin ke BK karena bolos jam sejarah lagi!" ​Arga menghentikan dribel bolanya. Ia menoleh, menyeka keringat dengan punggung tangan, lalu menyeringai tipis melihat pengurus OSIS yang berdiri di pinggir lapangan dengan buku catatan. ​"Laporin aja," sahut Arga santai. "Ruang BK udah kayak rumah kedua buat gue, sekalian titip salam buat Pak Hendra." ​Di sisi lain koridor sekolah yang lebih dingin karena hembusan AC, melangkah sosok yang menjadi pusat gravitasi SMA Nusantara Bakti. Adrian. ​Setiap langkahnya terukur, seragamnya rapi tanpa cela, dan wajah blasterannya yang seolah dipahat langsung oleh malaikat, selalu memasang ekspresi datar yang sulit ditembus. Sebagai Ketua OSIS sekaligus putra tunggal dari pemilik Arsenio Group, Adrian adalah definisi kesempurnaan yang nyata. Hidupnya adalah garis lurus yang tenang, penuh fasilitas, dan kasih sayang yang melimpah. ​⊹ ࣪ ﹏𓊝﹏𓂁﹏⊹ ࣪ ˖⊹ ࣪ ﹏𓊝﹏𓂁﹏⊹ ࣪ ˖ WARNING ⚠ - b×b - BL lokal - Mpreg - ini cerita bl, awas jangan salah lapak. - banyak typo bertebaran.

More details
WpActionLinkContent Guidelines