The Quiet Survival

The Quiet Survival

  • WpView
    Reads 0
  • WpVote
    Votes 0
  • WpPart
    Parts 1
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Thu, Jan 22, 2026
────୨ৎ──── Subuh selalu punya caranya sendiri untuk terasa sunyi. Jam menunjukkan 04.45 WIB ketika seorang anak perempuan duduk di depan televisi, menatap kartun peri seolah dunia di layar itu lebih baik daripada dunia yang dia tinggali. Di layar, mereka tertawa. Di layar, semua luka bisa disembuhkan dengan sihir. Tetapi di ruangan itu, tidak ada sihir. Hanya cahaya televisi yang terpancar pelan, dan seorang anak 9 tahun yang tidak tahu harus menyimpan apalagi di dalam dadanya. Dia masih duduk di bangku Madrasah Ibtidaiah kelas 3. Masih terlalu kecil untuk mengerti banyak hal. Namun cukup besar untuk mengerti, beberapa kesedihan memang tidak punya tempat pulang. Ibunya perlahan datang menghampiri. Dan saat itu, dia baru sadar... pagi bukan selalu tentang harapan. Kadang, pagi adalah awal dari rahasia yang panjang. ────୨ৎ──── Start, Jum'at 22 Januari 2026
All Rights Reserved
#22
reallifestory
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Berandalan di Mata Sang Tuan Muda.
  • Blueprint Pelarian Villain
  • The Time
  • Transmigrasi Ziora
  • EVANESCENT (HIATUS)
  • GHAIKA (REVISI)
  • Tsundere Maniak Susu
  • I'm Not Just a Figuran
  • ATLANTIS 2: PANGLIMA
  • GRAVARENZO

​Suara decit sepatu basket yang bergesekan dengan lantai semen SMA Nusantara Bakti seolah menjadi satu-satunya melodi yang akrab di telinga Arga. Matahari Jakarta yang menyengat di jam 12 siang sama sekali tidak ia gubris. Peluh membasahi jersey birunya, mengalir melewati leher dan hilang di balik kain yang sudah basah kuyup. ​Bagi Arga, hanya di lapangan ini dunia terasa jujur. Di sini, musuhnya jelas: ring basket dan lawan main. Tidak ada teriakan ibunya yang melengking menyalahkan takdir, tidak ada bau alkohol dari ayahnya yang pulang pagi membawa tumpukan utang baru, dan tidak ada beban rasa bersalah setiap kali melihat kakaknya pulang kerja dengan wajah pucat demi membiayai sekolahnya. ​"Arga! Berhenti main atau gue laporin ke BK karena bolos jam sejarah lagi!" ​Arga menghentikan dribel bolanya. Ia menoleh, menyeka keringat dengan punggung tangan, lalu menyeringai tipis melihat pengurus OSIS yang berdiri di pinggir lapangan dengan buku catatan. ​"Laporin aja," sahut Arga santai. "Ruang BK udah kayak rumah kedua buat gue, sekalian titip salam buat Pak Hendra." ​Di sisi lain koridor sekolah yang lebih dingin karena hembusan AC, melangkah sosok yang menjadi pusat gravitasi SMA Nusantara Bakti. Adrian. ​Setiap langkahnya terukur, seragamnya rapi tanpa cela, dan wajah blasterannya yang seolah dipahat langsung oleh malaikat, selalu memasang ekspresi datar yang sulit ditembus. Sebagai Ketua OSIS sekaligus putra tunggal dari pemilik Arsenio Group, Adrian adalah definisi kesempurnaan yang nyata. Hidupnya adalah garis lurus yang tenang, penuh fasilitas, dan kasih sayang yang melimpah. ​⊹ ࣪ ﹏𓊝﹏𓂁﹏⊹ ࣪ ˖⊹ ࣪ ﹏𓊝﹏𓂁﹏⊹ ࣪ ˖ WARNING ⚠ - b×b - BL lokal - Mpreg - ini cerita bl, awas jangan salah lapak. - banyak typo bertebaran.

More details
WpActionLinkContent Guidelines