The Elf Prince and the Archer [END]

The Elf Prince and the Archer [END]

  • WpView
    Reads 25,903
  • WpVote
    Votes 1,647
  • WpPart
    Parts 51
WpMetadataReadMatureComplete Sat, Mar 21, 2026
Irene Virelle Stormreach hampir membunuh Putra Mahkota Elf di pertemuan pertama mereka. Ia menyebutnya kecelakaan. Nyxarel menyebutnya ancaman. "Ini wilayah Gloomveil. Kaummu dilarang berburu di sini," ucap Nyxarel dingin. "Kau beruntung aku tidak langsung menebas lehermu." Irene tersenyum tanpa takut. "Coba saja. Kalau aku benar-benar ingin membunuhmu, kau sudah jatuh dengan lubang di dahi." Mereka saling membenci sejak awal. Sayangnya, ketegangan dua kerajaan membuat mereka harus menikah. Sekarang Irene tinggal di istana elf. Dengan suami yang tidak menyukai manusia. Dan suami itu mulai terlalu protektif untuk seseorang yang mengaku tidak peduli. *** Cerita ini ditujukan untuk pembaca 18+ dengan tema dark romance dan karakter utama yang tidak "green flag". Pastikan kalian nyaman dengan tipe cerita seperti ini sebelum membaca.
All Rights Reserved
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • The Grand Duke Who Stole the Sun [TAMAT]
  • Bugged Into Dark Romance Novel [END]
  • Running To You
  • My Annoying Duchess [END]
  • I Married the King Who Burns Love [END]
  • VICTOVYA PROJECT || COMPLETE ✓
  • When fate brings us together [ONGOING]
  • The Poison of Love
  • Flower in the Duke's Mansion
  • LOVE AND PAIN

"Benci aku, jika kau mau, tapi kau milikku sekarang." Bisiknya. Seraphina ingin berteriak, ingin menggores wajah dingin itu dengan kuku-kukunya. Tapi tubuhnya lemah, dan para prajurit telah mengikat kedua tangannya. Yang bisa ia lakukan hanyalah menatap dengan kebencian yang membara. Lucien tersenyum melihat itu, senyum puas dari seorang penakluk. Ia tidak membunuh Seraphina, Ia sengaja membawanya hidup-hidup, menyeretnya melintasi jalanan yang penuh mayat rakyatnya sendiri, menempatkannya di pelana kudanya seolah ia hanya sebuah piala perang. Semua yang melihat tahu, Grand Duke Lucien D'Arcelis Vaelthorne tidak hanya menghancurkan sebuah kerajaan. Ia merenggut permata paling berharga dari tanah itu, menjadikannya bukti keangkuhannya. • Beberapa pekan kemudian, Seraphina dibawa ke ibu kota Kekaisaran. Istana besar menjulang, indah tapi mencekam. Setiap langkahnya terasa seperti rantai yang mengekang. Lucien menyeretnya ke hadapan Kaisar. Dengan kepala tertunduk, Seraphina mendengar suara-suara yang samar, para bangsawan membicarakan keindahannya, kebencian mereka terhadap keberaniannya, dan rasa iri karena Lucien membawanya sendiri. Kaisar menatapnya lama, kemudian tertawa kecil. "Putri dari negeri kecil yang keras kepala, cantik sekali." Lucien berlutut di hadapannya, bukan dengan kerendahan hati, melainkan sebagai bentuk permainan politik. "Aku mempersembahkan gadis ini sebagai bukti kemenangan, Yang Mulia." Kaisar tersenyum puas. Namun daripada membunuhnya seperti yang Seraphina harapkan, kaisar justru berkata: "Dia milikmu, Lucien." ucap sang kaisar dengan nada penuh penghinaan. " "Biarlah dia hidup sebagai saksi kekalahan negerinya. Itu akan lebih menyakitkan daripada kematian." Dan sejak hari itu, matahari kerajaan kecil yang telah padam berubah menjadi pelayan paling hina.

More details
WpActionLinkContent Guidelines