Catatan Harian Si Sulung

Catatan Harian Si Sulung

  • WpView
    Reads 3
  • WpVote
    Votes 0
  • WpPart
    Parts 1
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Thu, Jan 22, 2026
"Rumah adalah tempat paling bising, tapi aku dipaksa menjadi yang paling tenang. Mereka menyebutnya dewasa, tetapi aku menyebutnya dipaksa untuk mati rasa." Menjadi anak sulung bukan tentang siapa yang lahir lebih dulu, tapi tentang siapa yang harus berhenti punya keinginan lebih awal. Di depan Ibu, aku adalah sandaran. Di depan adik, aku adalah teladan. Namun, di lembar-lembar kertas ini, aku adalah seorang pemberontak! Pemberontak yang muak dengan segala tuntutan. Di dalam kepalaku, aku sudah berteriak. Memaki. Melarikan diri berkali-kali. Aku benci saat semua orang menggantungkan harapan di bahuku seolah aku ini tiang beton yang tak boleh retak. Nyatanya? Aku masih di sini, mengalah lagi untuk kesekian kalinya. Menelan amarah agar senyum orang rumah tak luntur. Lembaran ini adalah saksi bisu betapa seringnya aku ingin menjadi egois, tetapi selalu kalah oleh rasa kasihan yang ... sialnya terus ada. Isinya hanya keluh kesah, kemarahan yang tertahan, dan mimpi-mimpi yang sengaja dipadamkan. Tenang, tidak semua keluh kesah ku tuangkan di sini, mungkin saja kedepannya akan ada hal-hal menarik yang terjadi di hidupku, jatuh cinta misalnya. Semua yang ku rasakan sebagai anak sulung akan kutuangkan di lembar ini. Karena bagiku, si sulung, meledak adalah sebuah kemewahan yang tidak mampu kubeli. Cerita ini juga dipublikasikan di Karya Karsa
All Rights Reserved
#62
sulung
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • "Beneath Her Forbidden Touch"[END]
  • karakter kecil ini mengasuh keluarga iblis?! {S2}
  • Drama di Pintu Kosan
  • BACKSTREET
  • Mission
  • Chana's Transmigrasi
  • Change The Plot (Niel)
  • REGAN's Crazy Wife

Elara Vionette tidak pernah mempertanyakan pekerjaan ibunya. Baginya, Livia Asteria hanyalah seorang pelayan yang pulang setiap malam dengan tubuh lelah dan senyum lembut. Sampai suatu hari, ibunya jatuh sakit. Dan Elara diminta menggantikannya. Rumah itu besar. Terlalu besar untuk menyimpan rahasia sekecil apa pun. Pernikahan sang nyonya dan suaminya hanyalah kontrak tanpa cinta. Lorong-lorongnya dipenuhi keheningan. Dan di balik pintu hitam dengan gagang emas itu... ada sesuatu yang tak pernah Elara bayangkan. Valeria Devianne tidak pernah tertarik pada siapa pun. Dingin. Tinggi. Elegan. Tak tersentuh. Sampai ia melihat putri pelayannya. Apa yang awalnya hanya rasa ingin tahu... berubah menjadi sesuatu yang lebih dalam. Lebih gelap. Lebih berbahaya. Karena beberapa rasa lapar tidak pernah benar-benar hilang. Mereka hanya menunggu untuk diwariskan. Dan Elara tidak tahu... bahwa malam pertama ia mengetuk pintu itu, ia sedang melangkah masuk ke dalam kelaparan yang bukan miliknya.

More details
WpActionLinkContent Guidelines