"Rumah adalah tempat paling bising, tapi aku dipaksa menjadi yang paling tenang. Mereka menyebutnya dewasa, tetapi aku menyebutnya dipaksa untuk mati rasa."
Menjadi anak sulung bukan tentang siapa yang lahir lebih dulu, tapi tentang siapa yang harus berhenti punya keinginan lebih awal. Di depan Ibu, aku adalah sandaran. Di depan adik, aku adalah teladan. Namun, di lembar-lembar kertas ini, aku adalah seorang pemberontak! Pemberontak yang muak dengan segala tuntutan.
Di dalam kepalaku, aku sudah berteriak. Memaki. Melarikan diri berkali-kali. Aku benci saat semua orang menggantungkan harapan di bahuku seolah aku ini tiang beton yang tak boleh retak. Nyatanya? Aku masih di sini, mengalah lagi untuk kesekian kalinya. Menelan amarah agar senyum orang rumah tak luntur.
Lembaran ini adalah saksi bisu betapa seringnya aku ingin menjadi egois, tetapi selalu kalah oleh rasa kasihan yang ... sialnya terus ada. Isinya hanya keluh kesah, kemarahan yang tertahan, dan mimpi-mimpi yang sengaja dipadamkan. Tenang, tidak semua keluh kesah ku tuangkan di sini, mungkin saja kedepannya akan ada hal-hal menarik yang terjadi di hidupku, jatuh cinta misalnya. Semua yang ku rasakan sebagai anak sulung akan kutuangkan di lembar ini. Karena bagiku, si sulung, meledak adalah sebuah kemewahan yang tidak mampu kubeli.
Cerita ini juga dipublikasikan di Karya Karsa
Seluruh Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang