Kos Pesona
Di Jalan Elang Nomor 8, sebuah bangunan tua dengan arsitektur kolonial berdiri tegak, membagi dunia menjadi dua sisi yang kontras. Sisi kiri yang selalu harum lilin aromaterapi milik para gadis, dan sisi kanan yang riuh dengan suara mesin motor serta gelak tawa para lelaki.
Mereka bilang, jarak antara kos putri dan kos putra hanya dipisahkan oleh satu lorong komunal. Namun bagi delapan remaja ini, lorong itu adalah garis depan peperangan sekaligus tempat rahasia-rahasia terkubur.
Ada Aqeela, si ratu kekacauan yang otaknya tak pernah berhenti merancang ide gila. Ada Mohan, partner in crime-nya yang selalu siap dengan gas motor dan tawa nakalnya. Bersama Fattah, William, Harry, Zara, Raisa, dan si dingin Flavio, mereka harus bertahan hidup di bawah satu atap yang sama.
Namun, di antara tumpukan buku ujian , aroma martabak tengah malam, dan riuhnya suara push rank sampai subuh, ada rasa yang mulai tumbuh tanpa izin. Ada luka yang coba disembunyikan di balik tawa, dan ada rahasia yang pelan-pelan mulai retak.
Apakah sekat di Kos Pesona cukup kuat untuk menjaga batas privasi mereka? Atau justru di ruang tengah yang sempit itu, mereka akan menyadari bahwa delapan hati ini sebenarnya punya ritme yang sama?