Non è il mio salvatore

Non è il mio salvatore

  • WpView
    Leituras 3
  • WpVote
    Votos 0
  • WpPart
    Capítulos 2
WpMetadataReadMaduroEm andamento
WpMetadataNoticeÚltima atualização seg, jan 26, 2026
Tumbuh tanpa arah membuatnya terbiasa menyerahkan pilihan kepada orang lain. Setiap langkah yang diambil bukan kehendaknya sendiri, melainkan arahan yang selalu terdengar lebih aman daripada suara hatinya. Memilih sendiri selalu tampak seperti kesalahan yang menunggu untuk terjadi, dan ia belajar menundukkan diri sebelum dunia menundukkannya. Hingga akhirnya, ia jatuh-terperangkap dalam kegelapan yang memaksa setiap bagian dirinya menyerah. Tanpa sadar, ia menyerahkan jiwa dan raganya kepada seseorang yang awalnya hanyalah penghancur: luka, jeratan, dan ketakutan. Namun dari tangan yang sama itu, hadir penolongnya-sebuah alasan untuk tetap berdiri, sebuah alasan untuk kembali pulang, meski tidak sepenuhnya aman, meski tidak sepenuhnya miliknya. ..... Matanya langsung jatuh pada Noemi. Bukan karena ia paling dekat. Tapi karena ia satu-satunya yang terlihat. Laki-Laki itu berhenti melangkah. Ruangan itu sunyi-bukan sunyi karena tidak ada suara, tapi karena tidak ada yang berani bersuara. "Yang lain?" tanyanya singkat. Salah satu penjaga itu menelan ludah. "Kami... belum menemuk-" Laki-laki itu mengangkat satu jari. Ucapan itu langsung terputus. Tatapan laki-laki tidak lepas dari Noemi. "Kamu," katanya dengan suara rendah dan terkontrol. "Kenapa tidak bersembunyi, De Luca?"
Todos os Direitos Reservados
Junte-se a maior comunidade de histórias do mundoTenha recomendações personalizadas, guarde as suas histórias favoritas na sua biblioteca e comente e vote para expandir a sua comunidade.
Illustration

Talvez você também goste

  • Nala dan Mas Juragan
  • Salah Status
  • Candu Sentuhan Sahabat Hyper
  • Rencana Pensiun Dini Nona Villain
  • Prahara Lamaran [END]
  • Kembang Desa
  • Stand by Me (END+LENGKAP)
  • Hello Mr. Komrad (Complete)
  • EGLLAR MY PERFECT HUSBAND [END]
  • Nakula

Setelah menyelesaikan kuliahnya, Kanala Ayudia Kirana (22) diminta oleh keluarganya untuk pulang ke kampung halaman dan tidak perlu bersusah payah mencari pekerjaan di ibu kota. Namun, Nala menolak dengan alasan tidak ingin menyia-nyiakan gelar di belakang namanya. Ia bersikeras ingin mencari pengalaman kerja selama satu tahun terlebih dahulu sebelum benar-benar menetap di kampung. Keluarganya akhirnya menyetujui, dengan satu syarat: Nala hanya boleh bekerja selama satu tahun, tidak lebih. Sayangnya, baru tiga bulan bekerja di salah satu perusahaan ternama, Nala menyerah. Tekanan pekerjaan yang tinggi dan lingkungan kantor yang tidak sesuai dengan ekspektasinya membuatnya kehilangan semangat. Ia pun memutuskan untuk mengundurkan diri dan berdiam diri di kosan, tanpa keberanian untuk memberi tahu keluarganya. Raras-ibu Nala-yang kemudian mengetahui anak bungsunya sudah tidak bekerja lagi, segera mendesaknya untuk pulang. Sebelum Nala sempat menolak, Raras lebih dulu mengancam tidak akan lagi mengirimkan uang bulanan. Terpojok dan kehabisan pilihan, Nala akhirnya menyerah. Ia berkemas dan pulang ke kampung halamannya. Namun siapa sangka? Di antara hamparan sawah dan hari-hari yang membosankan di warung milik ayahnya, hadir Hanggara Wiratama (31), juragan tanah sekaligus pemilik peternakan ayam terbesar di desa tetangga, selain itu ia juga menjalankan usaha jual-beli beras yang ia bangun dari nol, tak lupa dengan usahanya di kota yang tidak banyak diketahui orang. Sosoknya yang tenang dan apa adanya membuat Nala belajar bahwa pulang bukan berarti kalah, melainkan menemukan tempat untuk tumbuh. Bersamanya, Nala menyadari bahwa tidak semua mimpi harus dikejar jauh ke kota, sebagian justru menunggu untuk ditemukan di rumah.

Mais detalhes
WpActionLinkDiretrizes de Conteúdo