Keputusan untuk kembali setelah 5 tahun di negeri orang membuatku cukup ragu: apakah yang aku lakukan sudah benar?
Tidak ada penyambutan istimewa, hanya koper yang kutarik sendiri, udara panas yang menempel di kulit, dan perasaan yang tak sempat kujelaskan pada siapa pun. Kota ini masih sama-terlalu sama, seolah waktu berjalan tanpa menungguku kembali.
Aku tidak pernah benar-benar tahu alasan pastiku pulang. Mungkin karena lelah, mungkin karena rindu yang tak berani kusebut, atau mungkin karena ada sesuatu yang tertinggal di sini, menunggu tanpa suara. Di antara kemacetan, lampu jalan, dan rumah yang tetap berdiri seperti dulu, aku mulai mengerti bahwa jarak tidak selalu menghapus. Beberapa kenangan justru tumbuh diam-diam, menetap lebih lama dari yang kuharapkan.
Malam-malam di kota ini terasa lebih ramai daripada hari-hariku di benua seberang sana. Bukan karena suara kota, melainkan karena ingatan yang datang tanpa izin. Tentang masa kecil yang terlalu sunyi, remaja yang belajar menahan kata, dan seseorang yang pernah membuat segalanya terasa lebih ringan sebelum akhirnya pergi tanpa banyak penjelasan.
Aku tidak pandai bercerita tentang masa lalu. Aku hanya berjalan melewati tempat-tempat yang pernah kukenal, berharap kenangan mau berbicara dengan caranya sendiri. Setiap sudut kota seperti menyimpan potongan-potongan kecil yang tidak utuh, tapi cukup untuk membuat dadaku terasa penuh.
Di negeri orang, aku belajar bertahan.
Di kota asal, aku belajar berhenti berlari.
Namun, tidak semua yang kupendam ingin ditemukan. Ada perasaan yang masih terkunci, nama yang belum siap kusebut, dan luka yang memilih bersembunyi di balik kesibukan serta senyum tipis yang kupelajari selama ini.
Kisah ini bukan tentang jawaban.
Ini tentang jeda.
Tentang pulang yang tidak perlu dirayakan.
Tentang aku, yang perlahan menyadari bahwa penyembuhan tidak selalu datang sebagai kejelasan-kadang ia hadir sebagai keheningan yang terasa sedikit lebih ringan dari sebelumnya.
©️ Key, 202
All Rights Reserved