Fragmen Dalam Sunyi

Fragmen Dalam Sunyi

  • WpView
    Reads 1
  • WpVote
    Votes 0
  • WpPart
    Parts 1
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Sat, Jan 24, 2026
Keputusan untuk kembali setelah 5 tahun di negeri orang membuatku cukup ragu: apakah yang aku lakukan sudah benar? Tidak ada penyambutan istimewa, hanya koper yang kutarik sendiri, udara panas yang menempel di kulit, dan perasaan yang tak sempat kujelaskan pada siapa pun. Kota ini masih sama-terlalu sama, seolah waktu berjalan tanpa menungguku kembali. Aku tidak pernah benar-benar tahu alasan pastiku pulang. Mungkin karena lelah, mungkin karena rindu yang tak berani kusebut, atau mungkin karena ada sesuatu yang tertinggal di sini, menunggu tanpa suara. Di antara kemacetan, lampu jalan, dan rumah yang tetap berdiri seperti dulu, aku mulai mengerti bahwa jarak tidak selalu menghapus. Beberapa kenangan justru tumbuh diam-diam, menetap lebih lama dari yang kuharapkan. Malam-malam di kota ini terasa lebih ramai daripada hari-hariku di benua seberang sana. Bukan karena suara kota, melainkan karena ingatan yang datang tanpa izin. Tentang masa kecil yang terlalu sunyi, remaja yang belajar menahan kata, dan seseorang yang pernah membuat segalanya terasa lebih ringan sebelum akhirnya pergi tanpa banyak penjelasan. Aku tidak pandai bercerita tentang masa lalu. Aku hanya berjalan melewati tempat-tempat yang pernah kukenal, berharap kenangan mau berbicara dengan caranya sendiri. Setiap sudut kota seperti menyimpan potongan-potongan kecil yang tidak utuh, tapi cukup untuk membuat dadaku terasa penuh. Di negeri orang, aku belajar bertahan. Di kota asal, aku belajar berhenti berlari. Namun, tidak semua yang kupendam ingin ditemukan. Ada perasaan yang masih terkunci, nama yang belum siap kusebut, dan luka yang memilih bersembunyi di balik kesibukan serta senyum tipis yang kupelajari selama ini. Kisah ini bukan tentang jawaban. Ini tentang jeda. Tentang pulang yang tidak perlu dirayakan. Tentang aku, yang perlahan menyadari bahwa penyembuhan tidak selalu datang sebagai kejelasan-kadang ia hadir sebagai keheningan yang terasa sedikit lebih ringan dari sebelumnya. ©️ Key, 202
All Rights Reserved
#765
past
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Hello Mr. Komrad (Complete)
  • Nala dan Mas Juragan
  • Salah Status
  • Stand by Me (END+LENGKAP)
  • EGLLAR MY PERFECT HUSBAND [END]
  • Prahara Lamaran [END]
  • Rencana Pensiun Dini Nona Villain
  • Nakula
  • Kembang Desa (Hiatus)

Tania Ivana Prameswari sudah punya segalanya: followers jutaan, endorsement melimpah, dan wajah viral di TikTok. Tapi sayangnya, satu hal yang belum bisa dia "beli" dengan popularitasnya adalah ... ACC dari Elio Pradipta Komara, dosen killer dengan wajah rupawan dan mulut sepedas cabe rawit. Mahasiswa fakultas hukum menyebutnya Mr. Komrad, bukan karena dia ramah, tapi karena gayanya yang otoriter, dingin, dan katanya ... hatinya sudah dicabut negara. Sialnya, Tania harus menyelesaikan skripsinya di bawah pengawasan Elio, sang algojo akademik. Tiap halaman direvisi, tiap argumen dicabik, tiap senyumnya dibalas datar. Tapi Tania bukan selebgram sembarangan, dia sudah bertekad lulus tahun ini, walau harus pasang infus atau jual semua skincare. Namun segalanya berubah ... saat Tania terjebak di dalam lift bersama Mr. Komrad. Yang ada hanya dua manusia dengan ego besar, tensi tinggi, dan... satu rahasia kecil yang bisa mengubah segalanya. Apakah Tania akan tetap membenci Mr. Komrad? Atau justru mulai melihat sisi lain dari dosen paling menyeramkan se-fakultas hukum?

More details
WpActionLinkContent Guidelines