30 parts Complete > Kadang, yang paling berisik di kepala justru bukan suara orang lain-tapi pikiran sendiri.
Fathan dulu pikir, diam itu berarti tidak peduli. Bahwa orang yang tak menatap mata berarti tak mau melihat. Tapi waktu mempertemukannya dengan Rose, dia belajar... diam juga bisa bicara. Hanya saja, bahasanya berbeda.
Sementara bagi Rose, orang yang terlalu berisik seperti Fathan hanya membawa ribut, padahal diam adalah satu-satunya cara yang ia tahu untuk tidak terluka. Tapi lama-lama, ribut itu terasa hangat.
Mereka tak tahu kapan mulai saling melihat-mungkin di hari ketika Fathan berhenti marah, atau ketika Rose berhenti bersembunyi.
Yang mereka tahu, cinta pertama tak datang dengan naskah. Ia datang dalam bentuk salah paham, tatapan singkat di lorong sekolah, dan pesan yang diketik lalu dihapus sepuluh kali.
Dan di tengah semua keheningan dan kebisingan itu...
dua hati belajar berbicara dengan cara mereka sendiri.