Wisma Pelangi
Wisma Pelangi bukanlah sekadar bangunan tua dengan cat warna-warni yang estetik. Bagi mereka yang tinggal di dalamnya, tempat ini adalah "pelabuhan terakhir" yang dibangun dengan cinta oleh tiga sosok kakak tangguh: Shani, si penengah yang tenang; Gracia, si penyemangat yang ceria; dan Feni, sang pengatur yang enerjik.
Meski setiap hari diwarnai keributan yang menguji kesabaran, di balik pintu kamar yang tertutup atau di sela-sela obrolan malam di teras, ada rasa aman yang tak tergantikan. Wisma ini membuktikan bahwa keluarga tidak harus sedarah, dan rumah bukan sekadar bangunan, melainkan tempat di mana kamu diterima apa adanya.
Awalnya, penghuni Wisma Pelangi adalah orang asing yang tidak saling kenal. Mereka datang dari latar belakang yang berbeda-ada yang kehilangan rumah, kehilangan arah, hingga mereka yang mencari pelarian dari kerasnya dunia luar. Shani, Gracia, dan Feni membuka pintu wisma ini lebar-lebar untuk memberikan kasih sayang yang sempat hilang dari hidup mereka.
Selalu ada alasan untuk tertawa, mulai dari lelucon garing di meja makan hingga aksi konyol saat kerja bakti.
Kehebohan dari drama rebutan kamar mandi di pagi hari sampai suara musik yang terlalu kencang.
Kerusuhan Kreatif Pertengkaran kecil antar "adik-adik" yang biasanya berakhir dengan pelukan atau justru rencana jahil baru untuk ngerjain para kakak