Klub Merah Jambu

Klub Merah Jambu

  • WpView
    Reads 30
  • WpVote
    Votes 17
  • WpPart
    Parts 16
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Sun, Jul 12, 2026
Demi bisa bisa menghapus catatan biru pada ijazahnya nanti, Orlin menyanggupi persyaratan sang kepala sekolah untuk masuk ke dalam organisasi sekolah. Sayangnya, sejak dirinya diketahui sebagai "Sang Penyelamat" oleh para siswa, tak ada yang mau menerimanya sebagai anggota. Kecuali, Klub Merah Jambu. Awalnya Orlin menganggap remeh geng tersebut lantaran tak ada kejelasan mengenai kegiatan atau visi misinya. Hingga ketidaksengajaannya menjadi anggota secara perlahan membuatnya mengenal apa itu Klub Merah Jambu, tujuannya didirikan, beserta lika-liku kehidupan para anggota yang penuh kejutan. Dan, di saat semua terlihat akan happy ending, tiba-tiba saja Orlin terjebak situasi yang runyam dan bisa mengancam.
All Rights Reserved
#5
cintamonyet
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • SASMITA CANDALA (21+)
  • The Villain Mother
  • Nala dan Mas Juragan
  • De Andere Weg (END)
  • The Last Yes!
  • Almost Married (END)
  • I Won't Be the Tragic Fiancée
  • DOMINEX | The Crime Lock
  • Chasing Sanara
  • Revenge Marriage (SELESAI)

🔞⚠️Note: Cerita ini 21+ ya. Isinya untuk dewasa, mohon bijak dalam membaca. ****** Di Fakultas Ilmu Budaya tempat Andini menuntut ilmu, terdapat satu keanehan yang mencolok: seorang dosen bernama Bapak Mahapraja Hapsari. Setiap kali mengajar, beliau selalu mengenakan kain batik sebagai bawahan. Beliau tidak pernah mengenakan celana kain. Kain tersebut dipadupadankan dengan kemeja berwarna teduh, seperti krim, cokelat muda, putih gading, hijau pupus, dan sesekali merah muda. Penampilannya selalu tampak rapi dan konsisten. Pada awalnya, ketika baru memasuki semester pertama, Andini mengira bahwa hal tersebut hanyalah gaya berbusana biasa. Namun, hingga memasuki semester ketiga, gaya berpakaiannya tidak pernah berubah. Pada suatu siang, karena rasa ingin tahu yang besar, Andini memberanikan diri bertanya secara langsung dengan sopan dan santun. Ia bertanya mengapa beliau tetap mengenakan kain lebar yang terkesan gerah di cuaca panas seperti ini. Dosen yang bertubuh besar dan kekar dengan kulit berwarna cokelat mengilat itu tidak segera menjawab. Ia justru balik bertanya, "Kamu bukan orang Jawa asli, bukan?" "Iya, Pak. Saya orang Sunda. Ibu saya yang berdarah Jawa," jawab Andini. Pria itu bergumam pelan, "Sayang sekali." Wajahnya seketika tampak muram. "Jika kamu benar-benar ingin tahu, temui aku di ruanganku pukul lima sore," ujarnya.

More details
WpActionLinkContent Guidelines