Hari itu saat senja, kami berkendara menuju tempat pulang yang ku sebut sebagai rumah. Sambil mengendarai motornya dia menunjuk ke arah patung tua dan berkata. "Kamu pernah tau fakta tentang patung itu gak?". Orang yang mengerti seni seperti ku hanya bisa kagum melihat ke arah patung tua itu sambil menggelengkan kepala. "Enggak." Jawabku.
Lalu sambil menysuri jalan pulang saat itu dia bercerita. "Patung itu di buat oleh Jepang, karna Jepang tau pada masa itu sudah banyak penjajahan di negri kita. Jadi mereka milih tokoh yang paling berkuasa di daerah ini dan dibikin patung, untuk menandakan daerah ini tuh udah di tempatin oleh bangsa Jepang." Aku menyimak setiap perkataannya sambil terheran, "Kok kamu tau?" tanya ku. "Aku pernah liat itu di social media." Jawabnya.
Motor ini berkendara menyusuri tempat yang sering kita kunjungi, aku terdiam menikmati jalanan kota, sambil mendengarkan ceritanya. "Kamu tau rumah ku? Banpur, Batalion Tempur. Dulu dikawasan rumah ku itu markas utama tentara Jepang. Dan rumah mu itu, tempat ikan." ucapnya sambil tertawa di ujung kalimat. "Pasar ikan?" tanya ku membuatnya semakin tertawa. "Bukan, rumah mu itu perairan, bukan daratan." Lalu kami memasuki daerah rumahku sambil dia menunjukan ku sesuatu. "Lihat itu rumah kamu turunan, dulunya itu perairan, liat disana, darimana ada batu batu besar kalau dulunya ini bukan perairan."
Setelah aku sampai rumah, dia pamit pulang dan aku pun langsung masuk kedalam rumah ku. Pengaris Arion, kau dengan semua celah yang kau punya aku berani dengan besar hati menerimanya. Namun ini bukan hanya tentang penerimaan, sebab setelah perjalanan sore tadi aku berfikir bahwa tidak adil jika kisah ini hanya bisa dinikmati berdua, jadi saya menulisnya, sama seperti tulisan mu tentang ku, kau bahkan mengabadikan aku dalam lagumu. Aku ingin mengabadikan mu lewat sudut pandangku.
Seluruh Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang