Rumah bukan tempat yang nyaman. Rumah adalah sistem. Radit Albisma Nugraha, mahasiswa Arsitektur tingkat akhir, tidak mendesain rumah untuk kenyamanan. Ia terobsesi pada satu hal yang tak pernah ia miliki: Kendali Mutlak. Di lereng Dago Pakar yang sunyi dan berkabut, ia membangun sebuah eksperimen beton. Bagi orang awam, itu adalah vila minimalis yang memukau. Namun, bagi Radit, itu adalah manifestasi fisik dari teori permainan yang ia buat. Radit menerapkan prinsip pemrograman dinamis ke dalam setiap inci bangunannya. Ia memecah proses pembunuhan menjadi sub-problem arsitekural. Setiap ruangan adalah stage. Setiap keputusan tamu-ke kiri atau ke kanan, lari atau diam-adalah variabel yang dihitung. Rumah ini mempelajari dan mengingat detil; ia mencatat detak jantung dan ketakutan korbannya, lalu menggunakan data itu untuk mengoptimalkan teror bagi tamu berikutnya. Ketika Bimo, seorang data scientist, terjebak di dalamnya, ia menyadari bahwa nasib sial yang menimpanya bukanlah kebetulan. Itu adalah output dari sebuah desain yang presisi. Bimo harus berpikir layaknya sebuah program untuk bertahan hidup. Namun, ia terlambat menyadari satu kesalahan fatal dalam kodingan arsitektur Radit: Rumah ini didesain sebagai pengulangan. Selamat datang di rumah di mana satu-satunya cara untuk menang, adalah dengan tidak pernah ikut bermain.
More details