I'm Just Thinking [END]

I'm Just Thinking [END]

  • WpView
    Reads 1,059
  • WpVote
    Votes 250
  • WpPart
    Parts 65
WpMetadataReadComplete Wed, Apr 1, 2026
"Aku kan cuma mikir." Bagi Jemian Argyle Devanata, kalimat itu selalu jadi alasan setiap kali ia dianggap terlalu banyak bertanya. Ia bukan murid bermasalah-hanya terlalu penasaran untuk diam. Sampai suatu malam, ia mulai bermimpi tentang kehidupan yang tidak pernah ia jalani. Dalam mimpinya, Jemian adalah seorang trainee di sebuah agensi bernama Haven. Ia tahu tempat itu, mengenal orang-orang di dalamnya, dan mengingat detail yang terasa terlalu nyata untuk disebut sekadar mimpi. Masalahnya, di dunia nyata, ia tidak pernah menjadi trainee-bahkan tidak pernah mendekati agensi itu. Semakin ia mencoba mengabaikannya, semakin banyak hal aneh bermunculan. Informasi yang tidak seharusnya ia ketahui. Perasaan bahwa seseorang mulai memperhatikannya. Rasa penasaran Jemian lebih kuat daripada rasa takut. Ia mencari jawaban, tanpa sadar bahwa langkah kecilnya telah menarik perhatian orang-orang yang tidak seharusnya ia temui. Karena Jemian mungkin terlihat seperti anak biasa. Tapi ia tidak akan berhenti hanya karena dunia terasa salah. Selamat Membaca! Start: 27/1/2026 End: 1/4/2026
All Rights Reserved
#5
debut
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Sebelum Senja Memeluk Mentari
  • Di Antara Rantai yang Kusulam Sendiri
  • Hello, Stranger!
  • The Past For The Future
  • Stand by Me [TERBIT]
  • Where Hurt Meets Healing [END]
  • The Music Box
  • Jivanta: Yang Tak Mati
  • Eclipse Of The Moon [Revisi]
  • Waited for Him

Nathaniel adalah seorang anak yang jenius. Ia sudah terbiasa berdiri di atas mimbar tertinggi penghargaan dengan torehan prestasinya yang tak kunjung habis. Demi masa depan yang cerah, ia terus mengais perjuangan untuk mempertahankan posisinya di peringkat tertinggi. Hingga suatu hari, ia bertemu Geovano. Seorang murid penerima beasiswa yang hampir menyamai nilainya pada ujian semester. Nathaniel pun tidak tahu harus memasang ekspresi apa pada orang yang kini menjadi teman sebangkunya. Haruskah ia melihatnya sebagai seorang musuh, ancaman yang bisa merebut posisinya di peringkat tertinggi, atau haruskah ia melihatnya sebagai seorang teman, seseorang yang bisa memahami hujan di balik senyumannya? Nathaniel dan Geovano berharap mereka bisa menemukan titik cerah di tengah persaingan mereka. Sayangnya, mereka tidak punya banyak waktu. Mereka harus bisa meniti makna persahabatan mereka sebelum senja memeluk mentari.

More details
WpActionLinkContent Guidelines