Hari ini, nabastala tuhan begitu indah, sayangnya teramatlah aksa karya yang dibuatnya, hingga tiada asa aku dapat meraihnya.
Ku kira hanya dimasa aku berdiri sekarang, ternyata aku salah, setiap detakan denyut nadi, pada saat matahari memproses fotosintesis, bahkan hingga membran sel tidak berfungsi lagi, dia tetap menawan, tidak berubah, bahkan bertambah. tetapi sama saja, aku tidak dapat lagi menggenggamnya.
"ju" ucap Renkae dengan suara lirih hingga hampir tidak terdengar. Jhuya menyadari ada hal yang ingin di bicarakan dan ia menjawab pelan "kenapa?"
dua pasang mata memuja pemandangan di depannya. Cahaya senja menguning cerah, rumput basah meninggalkan aroma sebab hujan turun sebelumnya.
"kalau chico mati apa kamu akan beli yang baru?" hening sejenak, empat mata yang masih terpatung pada keindahan karya tuhan di depannya.
"apa kamu tau bahwa raga yang sama tetap memiliki jiwa yang berbeda?" tanya Jhuya balik
Renkae menjawab "ya, kutau. aku nemu kata-kata itu di quotes ig"
angguk jhuya.
"tapi kan kamu menyukai penyu, apa tidak masalah kamu ga pelihara lagi?" sambung Renkae. mendengar itu Jhuya menoleh ke arahnya, kedua insan sejenak saling menatap, dua detik mengalihkan dan fokus lagi menikmati cahaya sore.
"sebab aku menyukainya, aku tidak akan memiliki jiwa yang lain" jawab jhuya.
___________________
(cerita murni karya author)
(just enjoy reading)
(21+)
Seluruh karya Tilly D Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 28 Tahun 2014 Tentang Hak Cipta).
***
Sepuluh tahun yang lalu, ketika Amora Georgina Maxwell berusia empat belas tahun, ia menyatakan perasaannya pada Benjamin Caiden, dengan menyimpan surat cinta dan minuman di tas pria itu. Namun, surat yang seharusnya tersimpan di tas Ben, justru tersimpan di tas musuh besarnya, Marvin Easter, si tampan penuh kharisma-yang paling Amora benci dan hindari.
Sepuluh tahun kemudian, takdir memutarbalikan kehidupan Amora di mana ia bukan lagi si cantik-kaya-raya keluarga Maxwell. Dia berada di jalanan New York yang kumuh, berusaha mendapatkan pekerjaan di samping preman-preman itu mengejar Amora untuk menjualnya ke rumah bordil.
"Nona sombong yang angkuh, kita bertemu lagi."
Marvin Easter berdiri di hadapan Amora dengan penampilan yang luar biasa tampan. Hingga untuk beberapa saat, membuat Amora terpaku. Tak memercayai pandangannya.
"Marvin?"
Marvin menatap Amora dengan menggoda. "Ya, Amora Maxwell. Long time no see, huh?"
Sial. Amora tahu dia dalam masalah ketika Marvin menjadi malaikat penolongnya malam itu. Karena ciuman di bibirnya sepuluh tahun lalu, terasa berbeda dengan ciuman pria itu di atas bibirnya sekarang.