Di depan lampu sorot kamera, Pradipta Adhitama Widjaja (39) adalah sosok tanpa cela. Sebagai Menteri Pertahanan, dia adalah baja yang mustahil retak; dingin, tajam, dan hanya bicara tentang kekuasaan. Baginya, jatuh cinta bukan cuma buang waktu, tapi juga sebuah kekalahan.
Namun, semua topeng itu luruh begitu dia melewati gerbang rumahnya yang tersembunyi di balik sunyinya hutan pinus.
Renjana Aruna Putri (22) tidak pernah punya niat untuk mencuri perhatian pria sehebat Pradipta. Dia datang ke rumah itu dengan hati yang hancur, membawa label "anak narapidana" yang terus menghantuinya. Sebagai cucu pembantu, Renjana sangat sadar diri. Tugasnya hanya sederhana: menyiapkan secangkir kopi hitam pahit setiap tengah malam, lalu kembali bersembunyi di balik bayangan sebelum fajar tiba.
Sayangnya, Pradipta mulai menginginkan lebih dari sekadar kopi.
Tatapan tajam yang biasanya membuat musuh negara gemetar, kini justru menatap Renjana dengan cara yang berbeda-penuh tuntutan sekaligus luka. Di balik aroma kopi dan keheningan malam, ada getaran yang seharusnya tidak ada.
Pradipta tahu, mencintai Renjana adalah bunuh diri politik. Begitu juga dengan Renjana yang paham kalau berharap pada pria setinggi langit itu adalah kesia-siaan.
Satu langkah yang salah, dan dunia akan menghancurkan mereka tanpa ampun. Karena di dunia Pradipta, cinta adalah kelemahan. Dan sialnya, Renjana adalah kelemahan paling indah yang pernah dia miliki.
||FOLLOW SEBELUM BACA!!!||
"Ini kamar aku, nggak boleh nyelonong masuk tanpa izin" tegas Ala, kesal karena ruang pribadinya diakses tanpa seizinnya.
Kai menutup pintu, mendekat ke arah Ala yang sedang berbaring di ranjangnya.
"Ih, jangan naik" larangan Ala lagi-lagi diabaikan oleh pria itu.
Ala memberenggut kesal, pria kaku itu bahkan sudah bergabung di bawah selimut yang ia pakai.
"Sejak kapan suami istri punya kamar sendiri-sendiri?" bisik Kai tepat di belakang telinga Ala.
Ala merinding kegelian karena hangat hembusan nafas Kai.
"Sejak sekarang" pekik Ala begitu berhasil melarikan diri dari dekapan Kai. Dia berlari ke luar kamar, meninggalkan Kai yang tertawa puas setelah berhasil menggoda dirinya.
Masih terasa jejak usapan tangan Kai di perutnya tadi. Ala khawatir, apakah pria itu sudah tahu?
***
Cerita ini tentang dua sejoli yang hidup bertetangga namun tidak saling mengenal. Mereka bertemu karena sebuah insiden, hingga akhirnya semakin dekat dan mulai nakal tipis-tipis 🔞
⚠️⚠️⚠️
Terdapat beberapa konten dewasa eksplisit dan kata-kata vulgar, silahkan skip jika tidak berkenan. Bijaklah memilih bacaan.
JANGAN LUPA VOTE DAN KOMEN KARENA BACA CERITA INI GRATIS.
JANGAN JADI SILENT READER!